teori perubahan dalam sirah nabi

PERUBAHAN SOSIAL

(TEORI DAN ANALISA TERHADAP PRAKTIK PERUBAHAN YANG DILAKUKAN

NABI MUHAMMAD TERHADAP MASYARAKAT ARAB)

BAB I : PENDAHULUAN

Tak terbantahkan lagi, bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Ia tidak bisa lepas dari kehidupan sosial. Ketergantungan manusia pada lingkungan sosial tidak bisa dipisahkan dari upaya pemenuhan kebutuhannya. Adanya kebutuhan hidup inilah yang mendorong manusia untuk melakukan berbagai tindakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut. Dalam hal ini, menurut Ashley Montagu, kebudayaan mencermin-kan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya.[1] Maslow mengidentifikasi lima kelompok kebutuhan manusia, yakni kebutuhan fisiologi, rasa aman, afiliasi, harga diri, dan pengembangan potensi.[2]

Semua kebutuhan ini mendorong manusia untuk mengadakan interaksi dengan manusia lainnya. Interaksi inilah yang nantinya akan melahirkan, bahasa, budaya, seni, peradaban dan sebagainya. Semakin maju budaya dan peradaban suatu masyarakat, berarti semakin maju pula kualitas manusianya.[3]

Pada dasarnya semua masyarakat itu bersifat dinamis dan secara kuantitas mengalami perubahan. Ada beberapa alasan yang mendasari adanya perubahan sosial, antara lain: pertama, bahwa pada kenyataannya apa nampak merupakan sesuatu yang cacat atau tidak benar; kedua, secara obyektif equally (sederajat-kesetaraan) tidak benar; dan ketiga kajian kedua hal tersebut sangat relevan dan absah untuk menjadi landasan adanya perubahan sosial.[4]

Berdasarkan hal itulah, makalah ini akan menyoroti perubahan sosial itu secara  teoritis dan praktis guna menguji kebenaran suatu teori. Dalam hal ini, praktik yang dikaji adalah perubahan yang dilakukan Nabi Muhammad terhadap masyarakat Arab. Penulis sengaja mengangkat praktik yang dilakukakn Nabi karena sifatnya yang fenomenal, revolusioner, radikal, universal, dan mondial.

BAB II : TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi Perubahan Sosial

Wilbert Moore mendefinisikan perubahan sosial sebagai “perubahan penting dari stuktur sosial” dan yang dimaksud dengan struktur sosial adalah “pola-pola perilaku dan interaksi sosial”.[5] William F. Ogburn berpendapat, ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan, baik yang material ataupun yang bukan material. Unsur-unsur material itu berpengaruh besar atas bukan-material. Kingsley Davis berpendapat bahwa perubahan sosial ialah perubahan dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya, dengan timbulnya organisasi buruh dalama masyarakat kapitalis, terjadi perubahan-perubahan hubungan antara buruh dengan majikan, selanjutnya perubahan-perubahan organisasi ekonomi dan politik.[6] Mac Iver mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan hubungan-hubungan sosial atau perubahan keseimbangan hubungan sosial. Gillin dan Gillin memandang perubahan sosial sebagai penyimpangan cara hidup yang telah diterima, disebabkan baik oleh perubahan kondisi geografi, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi ataupun karena terjadinya digusi atau penemuan baru dalam masyarakat. Selanjutnya Samuel Koeing mengartikan perubahan sosial sebagai modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia, disebabkan oleh perkara-perkara intren atau ekstern.[7]

Akhirnya dikutip definisi Selo Soemardjan yang akan dijadikan pegangan dalam pembicaraan selanjutnya. “Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuka di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perkelakuan diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat”. Definisi ini menekankan perubahan lembaga sosial, yang selanjutnya mempengaruhi segi-segi lain struktur masyarakat. Lembaga sosial ialah unsur yang mengatur pergaulan hidup untuk mencapai tata tertib melalui norma.

B. Teori Perubahan Sosial

Ada beberapa teori dalam perubahan sosial, yaitu teori siklik, teori evolusioner, teori non evolusioner, teori fungsional dan teori konflik, serta teori-teori yang banyak digunakan oleh ahli sosiologi dalam melihat perubahan sosial di negara-negara di dunia ketiga.[8]

1.   Teori Siklik

Siklik merupakan sebuah lingkaran yang tidak mempunyai awal dan akhir. Penekanan dari teori siklik ini adalah bahwa sejarah peradaban manusia tidak berawal dan tidak berakhir melainkan suatu periode yang di dalamnya mengandung kemunduran dan kemajuan, keteraturan dan kekacauan. Artinya proses peralihan masyarakat bukanlah berakhir pada tahap terakhir yang sempurna melainkan berputar kembali pada tahap awal untuk menuju tahap peralihan berikutnya. Arnold Toynbee melihat bahwa peradaban muncul dari masyarakat primitif melalui suatu proses perlawanan dan respons masyarakat terhadap kondisi yang merugikan mereka. Peradaban meliputi kelahiran, pertumbuhan, kemandegan dan disintegrasi karena pertempuran antara kelompok-kelompok dalam memperebutkan kekuasaan.

2.   Teori Evolusioner

Para ahli teori ini cenderung melihat bahwa perubahan sosial merupakan suatu proses yang linear, artinya semua masyarakat berkembang melalui urutan perkembangan yang sama dan bermula dari tahap perkembangan awal sampai tahap akhir. Tatkala tahap akhir telah tercapai maka pada saat itu perubahan secara evolusi-oner telah berakhir. Tokoh dari teori ini antara lain adalah Auguste Comte, seorang sarjana Perancis, yang melihat bahwa masyarakat bergerak dalam tiga tahap perkem-bangan, yaitu: a. Tahap teologis (theological stage), b. Tahap metafisik (methaphysical stage), c. Tahap positif atau ilmiah (positive stage). Tokoh lainnya Emile Durkheim, yang lebih melihat bahwa perubahan sosial terjadi karena masyarakat beralih dari masyara-kat dengan solidaritas mekanik menjadi masyarakat dengan solidaritas organik.

Herbert Spencer dengan mengacu pada teori evolusi organisme dari Darwin, menerapkan konsep Darwin, yaitu ”yang terkuatlah yang menang (survival of the fittest)”. Teori evolusi organisme memiliki kemiripan dengan evolusi sosial di mana peralihan masyarakat melalui berbagai tahapan yang berawal dari tahap kelompok suku yang cenderung bersifat homogen dan sederhana menuju masyarakat modern yang lebih kompleks. Sedangkan menurut Spencer, orang-orang yang cakap atau terampil sajalah yang dapat memenangkan perjuangan hidup, sedangkan orang-orang yang lemah dan malas akan tersisihkan.

Selain itu, teori evolusi juga beranggapan bahwa fauna dimulai oleh binatang satu sel dua milyar tahun yang lalu, berujung dengan beberapa juta terakhir dengan manusia. Begitulah jagat raya dengan nebula serta bintang-bintangnya berubah. Bumi berubah. Hewan, tanaman, lautan, sungai, daratan, pegunungan, pantai pulau-pulau berubah serba terus.[9]

3.   Teori Non-evolusioner

Teori ini lebih melihat bahwa masyarakat bergerak dari tahap evolusi tetapi proses tersebut dilihat secara multilinear artinya bahwa perubahan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Meskipun ada kesamaan dengan teori yang sebelumnya tetapi tidak semua masyarakat berubah dalam arah dan kecepatan yang sama. Tokoh teori ini antara lain adalah Gerhard Lenski, yang menyatakan bahwa masyarakat bergerak dalam serangkaian bentuk masyarakat seperti berburu, bercocok tanam, bertani dan masyarakat industri berdasarkan bagaimana cara mereka memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dalam mempelajari konsep dari Lensky, maka perlu dipelajari konsep kunci dalam pernyataan Lenski, yaitu adanya continuity, inovation dan extinction. Ketiga elemen tersebut mengarah pada adanya keberagaman dan kemajuan di mana masyarakat menjadi semakin beragam selagi proses differensiasi terjadi dan kemajuan terjadi tidak hanya karena kondisi hidup yang semakin membaik tetapi juga pada perkemba-ngan tekhnologi.

4.   Teori Fungsional

Salah satu tokoh dari teori fungsional ini adalah Talcott Parsons. Ia melihat bahwa masyarakat seperti layaknya organ tubuh manusia, di mana seperti tubuh yang terdiri dari berbagai organ yang saling berhubungan satu sama lain maka masyarakat pun mempunyai lembaga-lembaga atau bagian-bagian yang saling berhubungan dan tergantung satu sama lain. Parson menggunakan istilah sistem untuk menggambarkan adanya koordinasi yang harmonis antar bagian. Selain itu karena organ tubuh mempunyai fungsinya masing-masing maka seperti itu pula lembaga di masyarakat yang melaksanakan tugasnya masing-masing untuk tetap menjaga stabilitas dalam masyarakat.

Bagaimana hubungan antara teori fungsional dengan perubahan sosial? Perlu dipahami bahwa dalam melihat perubahan sosial, Parsons mengemukakan tentang konsep keseimbangan dinamis-stasioner, di mana bila ada perubahan pada satu bagian tubuh manusia seperti juga pada satu bagian dalam masyarakat maka bagian-bagian yang lain akan mengikuti. Hal tersebut diupayakan agar tetap tercapai keseimbangan sehingga akan mengurangi ketegangan yang dapat muncul akibat perubahan tersebut. Hal ini berarti bahwa masyarakat bukanlah bersifat statis tetapi dinamis karena selalu mengalami perubahan yang diikuti oleh perubahan pada lembaga lain yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan yang baru.

5.   Teori Konflik

Menurut teori ini konflik akan muncul ketika masyarakat terbelah menjadi dua kelompok besar, yaitu yang berkuasa (bourjuis) dan yang dikuasai (proletar). Hasil dari pertentangan antar kelas tersebut akan membentuk suatu revolusi dan memun-culkan masyarakat tanpa kelas, maka pada kondisi tersebut terjadilah apa yang disebut dengan perubahan sosial. Ralf Dahrendorf, sebagai salah satu tokoh dalam teori konflik, menyatakan bahwa jika perkembangan masyarakat, kreativitas dan inovasi muncul terutama dari konflik antar kelompok maupun individu.[10]

C. Sumber-sumber Perubahan Sosial

Suatu teori perubahan yang baik juga disinggung di sini ialah prinsip perubahan imanen (dari dalam) yang dibicarakan oleh Sokorin dalam bukunya Social and Cultural Dynamics. Suatu sistem sosio-budaya semenjak wujudnya tidak henti-hentinya bekerja dan bertindak. Dalam menghadapi lingkungan tertentu sistem itu menimbulkan perubahan, di samping dirinya sendiri juga ikut mengalami perubahan. Karena telah mengalami perubahan, maka dalam menghadapi lingkungan yang sama dengan yang sebelumnya, ia memberikan reaksi yang berbeda dari pada reaksinya yang pertama. Jadi lingkungan tetap sama, tapi sistem itu dan reaksinya berubah. Demikianlah selanjutnya, reaksi yang ketiga terhadap lingkungan yang sama mengalami pula perubahan. Perubahan tidak hanya pada sistem dan reaksinya tapi juga pada lingkungan itu sendiri.[11]

Secara garis besar, ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial, yaitu faktor endogenous atau proses internal dan faktor exogenous:[12]

1. Faktor Internal (endogenous)

a. Perubahan kependudukan

Perubahan dalam kependudukan dapat berkaitan dengan perubahan kompo-sisi penduduk, distribusi penduduk termasuk pula perubahan jumlah, yang semua itu dapat berpengaruh pada budaya dan struktur sosial masyarakat. Komposisi penduduk berkaitan dengan pembagian penduduk antara lain berdasarkan usia, jenis kelamin, etnik, jenis pekerjaan, kelas sosial dan variabel lainnya. Pada umumnya komposisi penduduk dijelaskan melalui iramida penduduk yang akan menunjukkan prosentase jumlah penduduk berdasarkan variabel yang akan dijelaskan, misalnya berdasarkan usia atau jenis kelamin. Piramida penduduk yang diidealkan adalah piramida yang berbentuk pohon natal yang sempurna, di mana penduduk yang dalam usia produktif lebih banyak daripada yang belum atau sudah tidak produktif.

b. Penemuan

Suatu proses sosial dan kebudayaan yang besar tetapi terjadi dalam jangka waktu yang tidak lama adalah inovasi. Inovasi terbagi atas discovery dan inventions, keduanya bukanlah merupakan suatu tindakan tunggal melainkan transmisi sekumpu-lan elemen. Artinya semakin banyak elemen budaya yang dihasilkan oleh para penemu maka akan semakin besar terjadinya serangkaian discovery dan inventions. Misalnya penemuan tentang kaca akan membuat serangkaian penemuan baru misalnya lensa, perhiasan, botol, bola lampu dan lain-lain. Selanjutnya lensa akan melahirkan lensa kacamata, kaca pembesar, telescope dan lain-lain.

c. Konflik dalam masyarakat

Konflik dan perubahan sosial merupakan suatu proses yang akan terjadi secara alamiah dan terus menerus, tetapi Anda tidak dapat mengartikan bahwa setiap perubahan sosial yang muncul selalu didahului oleh konflik. Konflik atau pertenta-ngan dalam masyarakat dapat mengarah pada perubahan yang dianggap membawa kebaikan atau bahkan membawa suatu malapetaka.

2. Faktor Eksternal (exogenous)

a. Lingkungan

Manusia secara fisik tinggal di lingkungan dengan segala habitat yang ada di dalamnya, sehingga jika kita ingin tetap hidup maka kita harus dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar kita. Tetapi cara adaptasi dengan lingkungan melalui teknologi terkadang bahkan membuat lingkungan itu malah menjadi rusak. Banjir dan gempa bumi merupakan realitas yang menyebabkan manusia harus dapat menyesuaikan diri ataupun melakukan perubahan dalam kehidupan mereka sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada.

b. Perang

Perubahan dapat disebabkan kondisi perang dengan masyarakat atau negara lain atau dengan kata lain konflik dengan kelompok di luar masyarakat merupakan faktor eksternal dari sumber perubahan sosial. Dalam perang yang terjadi adalah adanya kelompok yang menang dan dapat menguasai kelompok lain, sehingga dalam penguasaan itu akan terjadi pemaksaan kebudayaan baru terhadap kelompok yang kalah. Kelompok yang kalah akan membuat suatu perubahan pada diri mereka karena mereka kalah perang.

c. Pengaruh kebudayaan lain

Budaya lain yang diterima oleh suatu masyarakat tanpa melalui suatu pemaksaan disebut dengan demonstration effect, atau dalam ilmu antropologi dikenal dengan istilah akulturasi. Contoh yang jelas di negara kita maupun di negara lain di dunia ini adalah budaya Amerikanisasi yang sudah tersebar di mana-mana. Amerikanisasi yang paling cepat dan mudah diterima oleh masyarakat adalah melalui jaringan makanan cepat saji atau restoran, seperti Kentucky Fried Chicken, Mac Donald atau Pizza Hut. Perubahan apa yang dibawa budaya Amerika tersebut? Yang paling mudah untuk dilihat adalah gaya hidup karena dengan makan di Mac Donald misalnya sudah pasti akan berbeda dengan makan di warung tenda pinggir jalan.[13]

D. Pola-pola Perubahan

Apabila seseorang mempelajari perubahan masyarakat, perlu pula diketahui ke arah mana perubahan dalam masyarakat itu bergerak. Yang jelas, perubahan bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi setelah meninggalkan faktor itu, mungkin perubahan itu bergerak kepada sesuatu bentuk yang sama sekali baru, namun mungkin pula bergerak ke arah suatu bentuk yang sudah ada di dalam waktu yang lampau. Ada beberapa pola dalam perubahan sosial, antara lain:

1.      Equilibrium, dalam konsep equilibrium yang stabil menyatakan bahwa melalui mekanisme integratif, berbagai macam unsur intern tetap terjaga dalam batas-batas dapat eksis mempertahankan kelangsungan pola-pola struktural yang pokok.

2.      Diferensiasi sosial, yaitu pembedaan anggota masyarakat ke dalam golongan-golongan secara horizontal (tidak memandang perbedaan lapisan). Bentuk differensiasi ini biasanya berdasarkan ras, agama, jenis kelamin, pekerjaan dan lain sebagainya. Menurut Parsons, proses diferensiasi menimbulkan sekumpulan masalah integrasi baru bagi masyarakat. Ketika subsistem-subsistem berkembang biak, masyarakat berhadapan dengan masalah barudalam mengoordinasi operasi unit-unit yang baru muncul itu.

3.      Konflik, biasanya konflik memiliki kecendrungan untuk saling meniadakan atau melenyapkan. Teori konflik berkembang sebagai reaksi terhadap fungsionalisme struktural. Menurut Dahrendorf, setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan. Teoritisi konflik melihat berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubahan.[14]

4.      Mobilitas status, dalam organisasi professional-birokratis berarti posisi yang ditempati seseorang dalam struktur sosial dan profesi.[15] Sistem mobilitas status dinyatakan bekerja sepanjang kepercayaan rakyat mendukung sistem tersebut dan dikuatkan oleh pengalaman aktual. Artinya, sistem ini bekerja jika sebagian besar rakyat memperoleh pekerjaan yang diinginkan sesuai dengan apa yang diperoleh melalui pendidikan mereka.

5.      Revolusi morfologi sosial, yaitu perubahan dalam kadar, kepadatan dan heterogenitas penduduk dan berdampak pada perubahan-perubahan yang terjadi kepada seseorang maupun masyarakat. Revolusi morfologi sosial merupakan hasil dari tiga perkemba-ngan, yang digerakkan oleh dan terkait dengan perkembangan yang keempat. Tiga perkembangan tersebut yaitu, 1. Population explosion (ledakan penduduk); 2. Population implosion (peningkatan konsentrasi); 3. Population diversification; sedangkan perkembang-an keempat adalah akselerasi laju perubahan teknologi dan sosial. Revolusi ini mem-bawa pada konsekuensi-konsekuensi munculnya berbagai masalah fisik, personal, sosial, institusional maupun pemerintahan.

E. Proses Perubahan

Analisis tentang proses perubahan didasarkan atas asumsi adanya interdependen-si antar berbagai bagian dari sistem sasial. Artinya, jika terjadi perubahan di satu sektor, maka akan diikuti kebutuhan sektor lain menyesuaikan diri terhadap perubahan itu. Awal dari proses perubahan biasanya adanya respons terhadap munculnya disorganisasi social, baik disebabkan oleh aspek internal maupun eksternal. Philip Hauser melihat sumber pokok yang kemudian sebagai penyebab utama proses perubahan adalah kontradiksi-kontradiksi dan tuntutan-tuntutan yang demikian kuat antar masyarakat. Kontradiksi dan tuntutan itu tidak karena masalah relasi antar kelas atau ras, melainkan karena beragam-nya lapisan demografi masyarakat.

Perlu untuk dipahami bahwa suatu proses perubahan yang terjadi dalam masyarakat akan selalu berkaitan dengan faktor pendorong yang dapat mempercepat terjadinya perubahan, serta faktor penghambat yang dapat memperlambat ataupun bahkan menghalangi terjadinya perubahan sosial itu sendiri. Faktor pendorong dan penghambat akan selalu ada dalam setiap masyarakat tanpa terkecuali baik dalam masyarakat yang masih menganut sistem nilai tradisional maupun masyarakat yang sudah modern sekalipun, hanya mungkin bentuknya akan berbeda-beda tergantung pada kondisi masyarakat yang bersangkutan.[16]

F. Bentuk Perubahan Sosial

Apakah suatu perubahan yang terjadi itu mempunyai bentuk? Perlu dipahami bahwa “bentuk” tidaklah mengacu pada sesuatu yang bersifat fisik tetapi lebih mengacu pada proses suatu perubahan itu terjadi. Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat dapat dibedakan dalam beberapa bentuk, meskipun demikian setiap bentuk perubahan tersebut akan sulit dibedakan dalam batas garis yang jelas karena setiap bentuk perubahan akan saling berkaitan satu sama lain.

1.   Perubahan Lambat dan Cepat

Suatu perubahan yang membutuhkan waktu lama dan diawali ataupun diikuti oleh sejumlah perubahan-perubahan kecil, dapat disebut dengan evolusi atau peruba-han yang lambat. Kondisi tersebut menyebabkan munculnya usaha dari masyarakat untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru seiring dengan terjadinya perkembangan dimasyarakat secara luas. Sedangkan perubahan yang cepat mengacu pada adanya perubahan sosial yang berkaitan dengan sendi-sendi pokok kehidupan dimasyarakat seperti institusi sosial, perubahan seperti itu disebut dengan revolusi.

Kecepatan perubahan revolusi bersifat relatif karena pada dasarnya revolusi dapat memakan waktu yang lama. Revolusi Industri misalnya tidaklah terjadi dalam waktu yang sebentar tetapi memakan waktu yang lama dimana adanya perubahan pada proses produksi suatu barang dari secara manual sampai berkembang dengan menggunakan mesin, yang selanjutnya menyebabkan ada perubahan antara lain dalam institusi ekonomi dimana biaya produksi yang murah dapat diperoleh dengan menggunakan tenaga kerja wanita dan anak-anak. Jadi, konsep cepat tidaklah mengacu pada waktu melainkan lebih pada unsur pokok dalam masyarakat yang mengalami perubahan seperti institusi keluarga, institusi politik dan lain-lain

2.   Perubahan Kecil dan Besar

Untuk membedakan suatu perubahan itu kecil atau besar akan sangat sukar untuk kita lakukan, karena batas perbedaannya sangatlah relatif. Soerjono Soekanto menyatakan bahwa perubahan pada unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh yang berarti pada masyarakat dapat dikategorikan pada perubahan yang kecil.[17] Misalnya perubahan pada bahasa dengan munculnya bahasa gaul, tidak membawa pengaruh yang berarti pada masyarakat.

Sedangkan perubahan besar terjadi apabila terdapat perubahan pada institusi di masyarakat, misal dipakainya mesin traktor untuk membajak sawah membawa perubahan yang drastis pada masyarakat pedesaan, antara lain pada pola kerja petani, hubungan petani penggarap dengan pemilik, stratifikasi masyarakat desa dan lain-lain.

BAB III : METODOLOGI

Dalam menganalisa realitas perubahan yang sudah terjadi dan telah dibukukan secara tertulis, dibutuhkan suatu teknik pengumpulan data yang relevan. Karenanya, penulis menggunakan teknik dokumenter, yaitu memanfaatkan sebanyak-banyaknya buku-buku atau literatur yang sudah ada sebelumnya. Diantara kegiatannya adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, majalah prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainya.[18]

Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah menganalisa data dengan menggunakan teori tertentu. Karena datanya bersifat dokumenter, maka metode yang cocok adalah content analysis atau kajian isi, yaitu metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah buku atau dokumen.[19]

Selain itu, dalam menganalisa strategi dan langkah-langkah yang ditempuh oleh Nabi Muhammad dalam kapasitasnya sebagai pemimpin kaum muslimin dalam mengge-rakkan, mengelola konflik, mengasimilasi berbagai elemen, dan mengevolusi peradaban dan kebudayaan Arab ke arah yang lebih baik dan sempurna, maka penulis juga akan menggunakan pendekatan teori konflik. Konflik dalam suatu hubungan bisa terjadi akibat dari adanya komunikasi yang tidak baik antar individu, tidak adanya kerja sama yang baik dari suatu hubungan, serta adanya pengambilan keputusan yang tidak mencapai mufakat antar individu.[20] Penggunaan teori ini dirasa perlu mengingat kebiasaan kabilah-kabilah Arab yang suka berperang antara satu dengan lainnya untuk merebut supremasi.

BAB IV : HASIL DAN ANALISIS

A. Penyajian Data

Sebelum kedatangan agama Islam, Semenanjung Arab di masa itu merupakan suatu kawasan yang jauh dan terpencil dari peradaban dunia. Dari segi geopolitik, ia adalah wilayah jajahan yang sering menjadi rebutan dua negara adidaya, yaitu Parsi dan Romawi. Penduduknya lebih sengsara lagi, mereka sering dijadikan budak oleh penguasa yang menjajahnya.

Dari segi kepercayaan, mayoritas mereka adalah penganut paganisme, yaitu menyembah berbagai macam benda yang dianggap memiliki kekuatan magis, seperti matahari, bintang, bulan, gunung, dan sebagainya. Namun demikian, masih ada juga yang tetap menganut agama samawi seperti Nasrani dan Yahudi.

Moral meraka pun bobrok dan nyaris seperti binatang. Adalah suatu hal yang lumrah jika kebanyakan mereka suka membunuh anak perempuan, berjudi, minum-minuan keras, memerkosa, merampok, berperang dengan tujuan mempertahankan kehormatan.[21] Singkat cerita, Arab pra Islam adalah bangsa yang terbelakang, tidak pernah bersatu, suka berperang antar suku (kabilah) untuk merebut supremasi, bermoral rendah, diliputi takhayul dan sesat. Wajar jika mereka disebut jahiliyah.

Setelah Nabi Muhammad SAW menerima risalah kenabian pada usia 40 tahun, mulailah beliau mendakwahkan ajaran Islam di tengah-tengah ketersesatan masyarakat mekah. Pengikut Nabi semakin bertambah jumlahnya 3-4 tahun masa dakwah Nabi tercatat 40 orang yang beriman.[22] Dahwah Nabi dikenal dengan dakwah secara sembunyi-sembunyi seperti yang digambarkan  dalam al-Qur’an surah Al-Mudassir ayat 1-7. Setelah dakwah secara samar dirasa cukup dan atas perintah Allah, Nabi melakukan dakwah terang-terangan seperti yang digambarkan oleh al-Qur’an: “Maka sampaikanlah dakwah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah  dari orang-orang musrik”.[23]

Dakwah Nabi Muhammad secara terang-terangan mendapatkan reaksi keras dari orang-orang Quraisy Mekah. Penolakan ini tidak serta-merta karena tidak mengakui kebenaran agama baru yang dibawa Nabi, yaitu ajaran tauhid Islam, tetapi justru di karenakan agama Islam itu menghendaki perombakan sosial dan politik yang mengancam sebagian pemuka orang-orang Quraisy.[24] Hal ini dikuatkan dengan kenyatan di waktau itu. Para lawan-lawan Nabi yang menolak dengan keras telah mengambil bentuk manuver-manuver pribadi dan keluarga serta oposisi-oposisi kesukuan untuk menulak ajaran Nabi seperti yang dilakukan oleh Abu Lahab dan Abu Jahl [25], akan tetapi semua kompromi yang ditawarkan oleh lawan-lawan Nabi ditolaknya.

Beberapa tahun Nabi hampir bisa dikatakan leluasa menyebarkan agama Islam di bawah perlindungan pamannya (Abu Thalib) sampai akhirnya tiba masa /tahun duka cita secara khusus pada nabi dan secara umum pada ummat Islam. Nabi berduka karena pada tahun itu orang-orang dekat Nabi, Abu Thalib dan istri Nabi, Khadijah wafat. Bagi Nabi dan bagi ummat Islam kejadian ini merupakan petaka baru karena paman nabi wafat, lawan-lawan ummat Islam lebih leluasa melakukan penulakan atas ajaran Nabi, sehingga setelah tahun duka cita itu ummat Islam diteror, disiksa dan dibaikot perekonomeannya, sebagai bukti, dakwah Nabi harus berpindah-pindah dari tempat yang agak terpencil ke tempat terpencil lainnya; pengikut Islam dari kalangan budak mendapat siksaan fisik; para saudagar yang mengimani ajaran Nabi dibaikot,[26] seperti yang dialami oleh Abu Bakar misalnya, berkurang dari 400 ribu menjadi 5 ribu dirham.[27]

Keadaan ummat Islam pasca meninggalnya Abu Thalib semakian hari semakin tidak menguntungkan bagi ummat Islam untuk menyabarkan agama Islam dan tetap bertahan di kota mekah, disaat Abu Thalib masih hidup, Nabi menyarankan kepada pengikutnya untuk mengungsi ke negri tetangga, Abessinia, pada bulan keujuh dari bulan kenabian, 11 laki-laki termasuk Utsman dan empat wanita hijrah ke Abyssinia. Dua bulan kemudian dilakukan hijrah kedua yang terdiri dari 101 mukmin diantaranya 18 terdapat wanita, hikmah yang dapat diambil dari hijrah ini adalah timbulnya kesadaran dalam hati orang-orang mukmin yang tinggal di Mekah tentang adanya negeri-negeri tetangga sebagai tempat pengungsian yang aman,[28] meskipun disisi lain, hijrah ini telah menimbul-kan petaka baru yang lebih dahsat yaitu meningkatnya siksaan kepada kaum mu’min. terlebih setelah Abu Thalib meninggal.

Bermula dari pertemuan dan rasa tertariknya Nabi kepada enam orang yang berkumpul pada saat Bulan Haji yang dilihat sebagai orang asing dari Yatsrib, pada waktu itu pula Nabi menyampaikan seruan kepada mereka untuk mengimani dan mendengar-kan serua-seruan Tuhan, dan Nabi menanyakan kepada mereka, apakah mereka akan menerima dan melindungi Nabi seandainya Nabi mengungsi ke negeri mereka? Keenam pemuda tersebut mengimani ajaran Nabi dan berbai’at kepada Nabi.[29] Dari perkenalan tersebut yang menjadi cikal-bakal hijrahnya Nabi ke Yastrib dan belakangan kota ini disebut dengan Madinatun Nabi (Madinah).

Nabi Muhammad tiba di Yatsrib disambut dengan hangat oleh masyarakat Yastrib. Mereka lalu mengubah nama negara ini menjadi Madinatun Nabi (Kota Nabi)[30], dalam rangka menyambut kedatangan Nabi. Ketika Nabi dan kaum muslimin (muhajirin) menetap di Madinah, beliau melakukan asimilasi antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar melalui perkawinan dan sebagainya. Tujuannya adalah agar kedua golongan itu dapat menyatu secara emosional di bawah bimbingan Nabi.

Program awal yang dilakukan oleh Nabi setiba di Madinah adalah merencanakan membangun masjid, Nabi bersama dengan masyarakat Madinah bekerja bhakti untuk mendirikannya dan masjid inilah yang pertama dalam sejarah Islam[31]. Selanjutnya beliau mulai menata kehidupan kaum muslimin dalam berbagai bidang, antara lain:

1.      Bidang Politik

Pada saat Nabi tiba di Madinah, masyarakatnya terbagi dalam berbagai golongan sebagaimana akan diterangkan berikut ini :

Kelompok Muhajirin, pengikut Nabi yakni orang-orang mukmin yang meninggalkan tanah kelahiran mereka dan terut berhijrah ke Madinah. Kesetian kaum Muhajirin terhadap perjuangan Nabi sangat besar. Mereka bersedia berhijrah dengan meninggalkan sahabat-sahabat dekat dan sanak keluarga dan mereka tabah menghadapi penderitaan dan cobaan dalam perjuangan di jalan Allah.

Kelompok Anshar, pengikut Nabi yang menjadi penduduk asli negeri Madinah yang sedikit banyak telah memberikan pertolongan kepada Nabi, dengan ramah hati mereka menyambut kehadiran Nabi di tengah-tengah mereka, dan sesuai dengan Perjanjian ‘Aqobah mereka bersedia membantu Nabi dalam kondisi bagaimana pun juga, kaum Anshar turut aktif dalam segala program Nabi bahkan mereka bersedia mengorbankan harta kekayaan untuk kepentingan perjuangan Islam. Mereka tidak hanyak memberikan perlindungan tempat tinggal, tetapi memberikan perlindungan kesejahteraan hidup. Ikatan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar semakin bertambah erat ketika Nabi menetapkan bahwa antara kedua kelompok ini saling mewarisi harta kekayaan. Masyarakat Madinah penyembah Berhala turut menyambut kedatangan Nabi. Baik yang beriman maupun yang tidak beriman, semuanya bersedia melindungi dan membela Nabi Muhammad. Tetapi setelah Islam semakin berkembang pesat, kelompok non muslim Madinah mulai cemas dengan kedudukan Nabi. Penganut agama Yahudi di Madinah mempunyai pendirian dan sikap yang berbeda-beda. Mereka bersama dengan masyarakat Madinah turut menyambut kehadiran Nabi, pada mulanya Nabi mengakui keberadaan agama mereka bahkan Nabi menggolongkan mereka sebagai Ahlul-kitab. Sebagai setrategi untuk menjalin persahabatan Nabi bahkan melestarikan sebagian kebiasaan dan praktek keagamaan mereka. Sementara sebagian penganut Yahudi senantiasa berusaha menggeser kepemimpinan Nabi tetapi ketika terbukti bahwa mereka tidak berhasil menggesernya, perlahan-lahan mereka mengurangi dukungan-nya terhadap Nabi bahkan mereka berusaha menjalin kerjasama dengan Quraisy Mekkah untuk memusihi Nabi.[32]

Semenjak datang ke Madinah Nabi mencurahkan perhatiannya untuk mengendalikan suasana politik masyarakat Madinah, khususnya mendamaikan suku Auz dan Khazraj yang telibat pertikaian panjang dimana dari kedua auku ini saling menguasai dan mengalahkan, sampai pada akhirnya kedua suku ini dapat didamaikan oleh Nabi sehingga kedua suku yang berpengaruh di Madinah ini masuk Islam.[33] Kebijakan politik yang juga ditempuh Nabi adalah upaya menghapus jurang pemisah antar suku-suku dan berusaha menyatukan penduduk Madinah sebagai suatu kesatuan masyarakat Anshar, pada sisi lainnya Nabi berusaha mempererat hubungan antara masyarakat Anshar dan Muhajirin, dalam hal ini kebijakan yang ditempuh Nabi bersandar pada prinsip saling hidup dan menghidupi, meningkatkan kehidupan yang rukun dan harmunis.

2.      Bidang Pemerintahan

Kekuasaan tertinggi pemerintahan Islam bersandar pada kekuasan Allah yang senantiasa menurunkan wahyu al-Qur’an kepada Nabi Mahammad. Sebagaimana yang terkandung dalam al-Qur’an berlaku bagi seluruh umat Islam, termasuk bagi nabi sendiri yang menjabat sebagai penguasa negeri Islam dalam urusan-urusan yang tidak ditetapkan oleh al-Qur’an maka keputusannya berada ditangan Nabi dalam urusan tersebut kedudukan Muhammad adalah sebagai kepala pemerintahan. Jadi Nabi menjabat peran atau fungsi ganda yaitu: sebagai fungsi kenabian dan fungsi kepemerintahan. Sekalipun Nabi menjabat sebagai otoritas tertinggi, namun beliau sering mengajak musyawarah para sahabat untuk memutuskan masalah-masalah penting.

Langkah kebijakan yang pertama kali ditempuh Nabi setiba di Madinah adalah menbangun masjid, yang kemudian dikenal sebagai masjid Nabawi, yang merupakan pusat pemerintahan Islam. Selain tempat ibadah masjid tersebut juga berfungsi untuk kantor pemerintah pusat dan sebagai kantor peradilan. Beliau memimpin sholat jemaah dan menyelenggarakan seluruh kegiatan kenegaraan di dalam masjid ini. Di dalam masjid ini pula Nabi melakukan kegiatan administrasi juga urusan surat menyurat dan pendelegasian misi dakwah kebeberapa penguasa dan suku-suku di sekitar Semenanjung Arabia. Pendek kata mesjid ini merupakan sekretariat pusat Nabi.

Berangkat dari dua fungsi yang diperankan oleh Nabi tersebut, maka Nabi selain kedudukannya sebagai Rasul (pemimpin agama) dan sekaligus menjadi Kepala Negara. Secara garis besar, Nabi adalah pertama kali yang meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan.[34]

3.      Bidang Kemiliteran

Nabi adalah pemimpin tertinggi tentara muslim. Beliau turut terjun dalam 26 atau 27 peperangan dan ekspedisi militer. Bahkan Nabi sendiri yang memimpin beberapa perang yang besar misalnya Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Hunayn, dan dalam penaklukan kota Mekkah. Adapun peperangan dan ekspedisi yang lebih kecil pimpinan diserahkan kepada para komandan yang ditunjuk oleh Nabi pada saat itu belum dikenal peraturan kemiliteran. Setiap ada keperluan pengerahan kekuatan meliter dalam menghadapi suatu peperangan atau ekspedisi, maka Nabi mengumpulkan tokoh-tokoh untuk memusyawarahkan perihal tersebut. Pada masa-masa awal pasukan muslim yang dapat dihimpun Nabi tidak seberapa jumlahnya, tetapi pada akhir masa pemerintahan nabi terbimpunm meliter yang sangat besar.pada perang badar Militer muslim hanya terdiri 313 pejuang, tetapi pada ekspedisi akhir masa Nabi, yakni ekspedisi ketabuk, armada muslim lebih dari 30.000 pasukan. Mereka adalah para pejuang yang disiplin tinggi selain itu mereka memiliki muralitas yang tinggi pula mereka dilarang melanggar disiplin perjuangan Islam. Jika melanggarnya, atas mereka hukuman yang sangat berat.[35]

4.      Bidang Pendidikan

Sekalipun tidak mengenyam pendidikan, Nabi sangat gigih menganjurkan kewajiban menuntut ilmu pengetahuan. Beliau selalu mendorong masyarakat muslim untuk belajar. Betapa sikap Nabi dalam mendorong kegiatan pendidikan terlihat dalam satu sabdanya: bahwasanya tinta seorang alim lebih suci dari pada darahnya para sahid. Setelah hijrah kemadinah nabi mengambil prakarsa mendirikan lembaga pendidikan. Pasukan yang tertawan dalam Perang Badar dibebaskan dengan sarat mereka masing-masing mengajarkan baca tulis kepada sepuluh anak-anak muslim. Semenjak saat itu kegiatan baca tulis dan kegiatan pendidikan lainnya berkembanga dengan pesat dikalangan masyarakat Madinah. Selanjutnya Madinah menjadi pusat pemerintahan Islam tetapi sekaligus menjadi pusat pendidikan Islam. Pada saat itu di Madinah terdapat 9 lembaga pendidikan yang mengambil tempat di masjid-masjid. Di tempat inilah Nabi menyampaikan pelajaran dan berdiskusi dengan murid-muridnya, para wanita belajar bersama dengan laki-laki, bahkan Nabi memerintahkan agar para tuan mendidik budaknya lalu mereka hendaknya memerdekakannya. Pada tiap-tiap kota diselenggarakan semacam pendidikan tingkat dasar sebagai media pendidikan anak-anak. Ketika Islam telah tersebar ke seluruh penjuru Jazirah Arabia, Nabi mengatur pengiriman muallim atau guru agama untuk ditugaskan mengajarkan al-Qur’an kepada suku-suku terpencil.[36]

Dengan pembenahan di segala bidang, secara perlahan kaum muslimin khususnya, dan masyarakat Arab umumnya tumbuh dan berkembang mnenjadi suatu peradaban baru yang unggul. Karena prestasinya ini, kekuatan kaum muslimin mulai dikhawatirkan oleh banyak pihak. Dengan landasan tauhid dan akhlak, Nabi telah berhasil membimbing masyarakat Arab ke arah yang tinggin budaya dan peradabannya.

B. Analisis

Perubahan masyarakat yang berlangsung dalam abad pertama Islam tiada tara bandingannya dalam sejarah dunia. Kesuksesan Nabi Besar Muhammad SAW. dalam merombak masyarakat jahiliyah Arab, membentuk dan membinanya menjadi suatu masyarakat Islam, masyarakat persaudaraan, masyarakat demokratis, masyarakat dinamis dan progresif, masyarakat terpelajar, masyarakat berdisiplin, masyarakat industri, masyarakat sederhana, masyarakat sejahtera adalah tuntunan yang sangat sempurna dan wahyu ilahi. Allah berfirman, “Kitab ini tidak ada keraguan atasnya bagi orang-orang yang bertakwa” (Q.S. al-Baqarah : 2).

Nabi Muhammad adalah Nabi yang paling sukses diantara para pemimpin agama, mendapat pengakuan dunia. Ajaran Islam yang dibawanya berhasil dan kuasa membasmi kejahatan yang sudah berurat berakar, penyembahan berhala, minuman keras, pembunuhan dan saling bermusuhan sampai tidak berbekas sama sekali, dan Muhammad berhasil membina di atasnya suatu bangsa yang berhasil menyalakan ilmu pengetahuan yang terkemuka, bahkan menjadi sumber kebangunan Eropa.

Proses perubahan masyarakat yang digerakkan oleh Muhammad adalah proses evolusi. Proses itu berlangsung dengan mekanisme interaksi dan komunikasi sosial, dengan imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Strategi perubahan kebudayaan yang dicanangkannya adalah strategi yang sesuai dengan fitrah, naluri, bakat, azas atau tabiat-tabiat universal kemanusiaan. Strategi yang ditempuhnya mampu mewujudkan perdamaian, mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang sejahtera, persaudaraan, dan ciri-ciri masyarakat Islam yang dibicarakan di atas tadi.

Walaupun demikian Muhammad harus mempersiapkan bala tentara untuk mempertahankan diri dan untuk mengembangkan dakwahnya, adalah karena tantangan yang diterima dari kaum Quraish dan penantang-penantang jahiliyah lainnya untuk menghapuskan eksistensi Muhammad dan pengikutnya. Justru karena tantangan itu, kaum muslimin kemudian tumbuh dengan cepat dan mengembangkan masyarakat dan kebudayaan dengan sempurna.

Dalam situasi yang demikian, kita perlu merenungkan mengapa Muhammad SAW, junjungan kita, panutan kita, mampu membuat perubahan suatu masyarakat bodoh, terkebelakang, kejam, menjadi suatu masyarakat sejahtera, terpelajar, dinamis dan pogresif dalam waktu yang begitu singkat. Perubahannya bersifat universal, struktural, massif, dan dalam waktu yang relatif singkat. Hal itu tentunya tidak lepas dari sifat dan kepemimpinan Nabi. Kepemimpinan memang tidak bisa dilepaskan dari pembahasan mengenai pemimpin itu sendiri. Karena, kepemimpinan bisa dipelajari dari apa yang dilakukan oleh pemimpin.[37] Kepemimpinan itu sendiri merupakan suatu hubungan interperonal yang memiliki pengaruh  dari seseorang terhadap orang lain meliputi adanya suatu proses  komunikasi efektif yang berguna untuk mencapai tujuan dari suatu kelompok.[38]

Dari semua itu, suatu konklusi patut diketengahkan: Nabi Muhammad telah berhasil melakukan perubahan yang sangat fundamental terhadap masyarakat Arab secara mental, emosional, moral, dan merubah masyarakat yang jahiliyah menjadi masyarakat yang berperadaban tinggi dan agung di segala bidang dalam waktu singkat.

BAB V : PENUTUP

Agama Islam mampu, bahkan justeru berfungsi, untuk mengawal dan mengarah-kan perubahan-perubahan sosio-budaya, baik perubahan lembaga dan norma-normanya ataupun konsepsi-konsepsi. Karena ia (berbeda dengan agama Nasrani yang hanya mengatur urusan agama) memberikan prinsip dan asas kebudayaan dan menentukan arah perubahan masyarakat. Prinsip, asas dan arah itu bersifat serba tetap. Kembali kita kepada teori Islam. Agama yang serba tetap menggariskan pegangan hidup, menentukan prinsip dan asas yang serbatatap sosio-budaya dan menunjukkan tujuan kehidupan. Pelaksanaan sosio-budaya boleh berubah serba-terus yang dilaksanakan oleh akal, tapi tetap dalam pola yang digariskan oleh agama. Maka perubahan-perubahan itu tidak menimbulkan krisis. Pengalaman yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad di Madinah dalam mengasimilasi, mengintegrasi, memobilisasi, dan membentuk peradaban baru yang agung bisa dijadikan sebagai bukti sekaligus pelajaran, bahwa Islam mampu menginisiasi, mengonsep, dan mengimplementasikan perubahan secara baik dan rapi.

Agar agama Islam kembali berperanan dalam perubahan-perubahan sosio-budaya umat Islam, konsepsi Islam yang lengkap dan utuh perlu diamankan, yaitu perpaduan agama Islam dengan kebudayaan Islam. Asas dan prinsip kebudayaan dikembalikan kepada agama untuk menentukannya, sehingga norma-norma sosial dikawal dan diarahkan oleh dan berlandaskan spirit keagamaan. Walla>hu a’lam bi al-s{awa>b.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ali, K. 2003. Sejarah Islam; Tarikh Pramodren, Jakarta: Srigunting, Cet. Ke-IV.

Al-Buthi, Muhammad Sa’id Ramadan. (t.th). Fiqh Sirah 1, terj. Mohd. Darus Sanawi, 1983. Malaysia: Pustaka Fajar.

Armstrong, Karen. 2001. Muhammad Sang Nabi, Sebuah Biografi Kritis, Jakarta: Risalah Gusti, Cet. IV.

________ 2002. Islam; Sejarah Singkat. Jakarta: Jendela, Cet. I.

Buna’i. 2008. Penelitian Kualitatif, Pamekasan: Perpustakaan STAIN Pamekasan Press.

Cohen, Percy S. 1968. Modern Social Theory, London: Heinemann Educational Books.

Departemen Agama RI. 2002. Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Direktorat Jendral Depag.

Gazalba, Sidi. 1974. Antropologi Budaya Gaya Baru II, Jakarta: Bulan Bintang.

Glasse, Cyril. 2002. Ensiklopedi Islam Ringkas, Jakarta: Rajawali Pers, Cet. III.

Hudgson, Marshall G. S. The Venture of Islam, Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, Jakarta: Paramadina, Cet. II.

Kirchler, Erich, dkk. 2001. Conflict and Decision-Making in Close Relationships: Love, Money, and Daily Routines. UK: Psychology Press Ltd.

Landis, Judson R. 1986. Sociology, Concepts and Characteristic, California: Wadsworth Publishing Company.

Lings, Martin. 2002. Muhammad; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Jakarta: Serambi, Cet. I.

Maore, Wilbert E. 1967. Order and Change; Essay in Comparative Sosiology, New York: John Wiley & Sons.

Maslow, Abraham H. 1945. Motivation and Personality, New York: Harper.

Moleong, Lexy J. 2000. Metode Penelitan Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Montagu, Ashley. 1961. Man: His First Million Years, New York: Mentor.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2004. Teori sosiologi modern, Jakarta: Kencana.

Russel, Ruth V. 2006. Leadership in Recreation (3rd ed.). Singapore: McGraw-Hill Inc.

Soekanto, Soerjono. 1974. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.

Sarokin, Pitrim A. 1957. Social and Cultural Dynamies, Boston: Sargent.

Susiasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu; Suatu Pengantar Populer, Jakarta: Pancaranintan Indahgraha.

Syalabi, Ahmad. 1997. Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. AL Husna Zikra, Cet. IX.

Yatim, Badri. 2003. Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II, Jakarta: Rajawali Pers, Cet XV.


[1] Ashley Montagu, Man: His First Million Years, (New York: Mentor, 1961), h. 85.

[2] Abraham H. Maslow, Motivation and Personality, (New York: Harper, 1945).

[3] Jujun S. Susiasumantri, Filsafat Ilmu; Suatu Pengantar Populer, (Jakarta: Pancaranintan Indahgraha, 2007), h. 287.

[4] Percy S. Cohen, Modern Social Theory, (London: Heinemann Educational Books, 1968), h. 204.

[5] Wilbert E. Maore, Order and Change, Essay in Comparative Sosiology, (New York: John Wiley & Sons, 1967), h. 3.

[6] Soerjono Soekanto, Sosiologi; Suatu Pengantar, (Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1974), h. 217

[7] Ibid, h. 218

[8] Judson R Landis, Sociology, Concepts and Characteristic, (California: Wadsworth Publishing Company, 1986), h. 321.

[9] Sidi Gazalba, Antropologi Budaya Gaya Baru II, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), h. 121.

[10] Ibid., h. 153.

[11] Pitrim A. Sarokin, Social and Cultural Dynamies, (Boston: Sargent, 1957), h. 415

[12] Percy S. Cohen, Modern Social Theory, h. 178.

[13] Soerjono Soekanto, Sosiologi; Suatu Pengantar, h. 325.

[14] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori sosiologi modern, (Jakarta: Kencana, 2004), h. 153.

[15] Profesi menggambarkan tentang jenis pekerjaan dan job diskripsi yang berbeda-beda, baik uraian tugas maupun rangking status.

[16] Soerjono Soekanto, Sosiologi; Suatu Pengantar, h. 326-330.

[17] Ibid , h. 330.

[18] Buna’i, Penelitian Kualitatif, (Pamekasan: Perpustakaan STAIN Pamekasan Press, 2008), h. 98.

[19] Lexy J. Moleong, Metode Penelitan Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), h.163.

[20] Erich Kirchler, dkk, Conflict and Decision-Making in Close Relationships: Love, Money, and Daily Routines. (UK: Psychology Press Ltd, 2001)

[21] Muhammad Sa’id Ramadan al-Buthi, Fiqh Sirah 1, terj. Mohd. Darus Sanawi, (Malaysia: Pustaka Fajar, 1983), h. 12.

[22] Prof. K. Ali, Sejarah Islam; Tarikh Pramodren, (Jakarta: Srigunting, 2003), Cet. Ke-IV, h. 45-46.

[23] QS. al-Hijr (15): 94.

[24] Prof. K. Ali, Sejarah Islam…, h. 6.

[25] Marshall G. S. Hudgson, The Venture of Islam; Iman dan Sejarah dalam Peradapan Dunia, (Jakarta: Paramadina, Cet. II.), h. 244-255.

[26] Martin Lings, Muhammad ; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, (Jakarta: Serambi, 2002), Cet. I, h. 143-154.

[27] Karen Armstrong, Muhammad Sang Nabi;  Sebuah Biografi Kritis, (Jakarta: Risalah Gusti, 2001), Cet. IV, h. 182.

[28] Prof. K. Ali, Sejarah Islam…, h. 48.

[29] Ibid, h. 53.

[30] Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam Ringkas, (Jakarta: Rajawali Pers, 2002), Cet. III, h. 241.

[31] Karen Armstrong, Islam; Sejarah Singkat. (Jakarta: Jendela, 2002), Cet. I, h.18-19.

[32] Prof. K. Ali, Sejarah Islam…, h. 62-63.

[33] Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam; Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: Rajawali Pers, 2003), Cet XV, h. 25. Lihat juga: Prof. Dr. A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: PT. AL Husna Zikra, 1997), Cet. IX, h. 119.

[34] Departemen Agama RI, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Direktorat Jendral Depag, 2002), h. 61-63.

[35] Prof. K. Ali, Sejarah Islam…, h. 128-129.

[36] Prof. K. Ali, Sejarah Islam…, h. 129-130.

[37] Ruth V. Russel, Leadership in Recreation (3rd ed.). (Singapore: McGraw-Hill Inc., 2006)

[38] Ibid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s