kajian filsafat etika islam

FILSAFAT  ETIKA  DALAM  ISLAM

A. Pendahuluan

Akhlak atau etika dalam Islam merupakan misi kenabian yang paling utama setelah pengesaan Allah Swt (al-tauhīd). Dalam hal ini Rasulullah saw pernah bersabda,

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق [1]

“Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

Dalam tataran khazanah keilmuan Islam kaitannya dengan filsafat, etika biasanya disebut dengan filsafat praktis. Ia menempati bagian penting dalam diskursus pemikiran Islam klasik. Filsafat praktis itu sendiri berbicara tentang segala sesuatu bagaimana seharusnya yang berdasar kepada filsafat teoritis, yakni pembahasan tentang segala sesuatu sebagaimana adanya.[2]

Kajian tentang etika memiliki keunikan tersendiri dan disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Sehingga gairah para ilmuwan muslim untuk membahas lebih terperinci pada bidang ilmu yang sangat krusial dalam Islam ini, melahirkan banyak karya yang dapat dijadikan sumber rujukan primer maupun sekunder.

Dalam makalah ini kami akan membahas tentang filsafat etika atau moral dalam Islam yang difokuskan pada deskripsi definisi filsafat etika dan tokoh-tokoh yang berkonsentrasi pada pendalaman filsafat etika serta konsep pemikirannya.

B. Definisi Filsafat Etika

Sebelum mendefinisikan tentang filsafat etika, perlu terlebih dahulu diberikan definisi masing-masing mengenai filsafat dan etika atau akhlak itu sendiri. Agar nantinya pembahasan bisa dibawa ke arah yang lebih spesifik dan terarah.

Definisi filsafat dirumuskan berbeda-beda oleh banyak pakar, sesuai dengan metodologinya masing-masing. Di antaranya adalah pendapat al-Farabi (w. 950 M)[3] yang menyatakan bahwa, filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujūd dan bertujuan menyelidiki bentuk abstrak hakikat yang sebenarnya.

Pendapat lain dari Immanuel Kant (1724-1804 M) [4] menyatakan bahwa, filsafat adalah pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup empat persoalan;

1.      Apakah yang dapat kita ketahui? Dijawab oleh metafisika.

2.      Apa yang boleh kita lakukan? Dijawab oleh etika atau akhlak.

3.      Dimanakah pengharapan kita akan sampai? Dijawab oleh agama.

4.      Apakah yang dimaksud dengan manusia? dijawab oleh antropologi.

Definisi tentang akhlak, dalam kitab Lisān al-‘Arab, dituliskan bahwa al-Akhlāq jamak dari mufrad (kata tunggal) khulqun atau khuluqun yang bersinonim dengan kata al-thab’u (tabiat atau karakter) dan al-sijiyyah (tabi’at, perangai, dan tingkah laku). Akhlak atau moral merupakan gambaran batin manusia berupa sifat-sifat kejiwaannya.[5]

Selanjutnya mengenai filsafat Etika, Prof. Stephen Korner[6] menyatakan bahwa, filsafat etika adalah ilmu ini mengkaji nilai  dan tingkah laku manusia dari segi lahiriah dan batiniah. Keilmuan ini juga menjadi teras kepada keilmuan lain agar segala pelaksanaan kerja, kajian dan sebagainya tidak terlalu melampau atau langsung tidak progresif.

Secara umumnya diketahui bahwa disiplin kajian etika berasal daripada pemikiran metafisika alam ini. Di dalam kehidupan ada dua kuasa yang mendominasi makhluk yaitu qudrah Tuhan (kekuatan dan pengawalan Tuhan)   dan ikhtiyārīy (usaha dan kegigihan) pada manusia. Dengan unsur ikhtiyārīy inilah adanya nilai etika dan moral manusia. Dengan adanya panduan al-Quran, manusia menjadi mudah memahami teori moral dan etika tanpa perlu bersusah payah mencari hakikat kebenaran disiplin ilmu ini.

Secara praktis, filsafat etika merupakan kajian keilmuan mengenai tabi’at atau tingkah laku lahiriah manusia yang timbul dari bathiniahnya. Bidang ini memikirkan tentang akhlak atau tingkah laku  manusia, misalnya, adakah perbedaan antara perbuatan baik dan perbuatan buruk? Jika ada, apakah perbedaannya? Tindakan mana yang betul dan tindakan mana yang salah? Adakah nilai mutlak, atau perbandingannya? Bagaimana seseorang itu harus hidup?[7] Dengan kata lain, bahwa Filsafat etika adalah kajian untuk mencari hakikat nilai-nilai baik dan buruk yang berkaitan dengan perbuatan dan tindakan seseorang, yang dilakukan dengan penuh kesadaran berdasarkan pertimbangan pemikirannya.

Beberapa sumber otoritatif yang merupakan produk dari diskursus keilmuan Islam tentang akhlak atau etika sangat banyak, mulai dari yang berdasarkan kepada
pemikiran-pemikiran filsafat Yunani dan tradisi parepatetik Islam, etika yang
berdasarkan otoritas wahyu, sampai sintesa dari kedua corak tersebut. Hal ini menunjukan bahwa betapa luasnya khazanah kajian Islam tentang etika.

 

C. Tokoh-tokoh Filsafat Etika dalam Islam dan Pokok-Pokok Pemikirannya

1. Ibnu Miskawaih

a. Biografi

Ibnu Miskawaih, seorang ilmuwan agung kelahiran  Ray, Persia (sekarang  Iran) yang hidup sekitar tahun 320 H/932 M, diberi gelar sebagai Guru Ketiga setelah al-Farabi dalam bidang filsafat. Ia merupakan seorang ilmuan hebat yang dikenal sebagai seorang filsuf, penyair, dan sejarawan yang sangat masyhur.

Ibnu Miskawaih memiliki nama asli Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’qûb Ibn Miskawaih. Ia terlahir pada era kejayaan khalifah Abbasiyyah. Ibnu Miskawaih adalah seorang keturunan Persia yang ia dan keluarganya beragama Majuzi kemudian pindah memeluk agama Islam. Ibnu Miskawaih berbeda dengan al-Kindi dan al-Farabi yang lebih menekankan pada aspek metafisik. Ibnu Miskawaih lebih pada tataran filsafat etika seperti al-Ghazali. Sejarah dan filsafat merupakan dua bidang yang sangat disenanginya. Sejak masih muda, ia  dengan tekun mempelajari sejarah dan filsafat, serta pernah menjadi pustakawan Ibnu al-‘Abid, tempat dia menuntut ilmu dan lebih memperoleh banyak wawasan berkat pergaulannya dengan kaum elit.[8]

Tak hanya itu, Ibnu Miskawaih juga merupakan seorang yang aktif dalam dunia politik di era  kekuasaan Dinasti Buwaihi, di Baghdad. Ibnu Miskawaih meninggalkan Rayy menuju Baghdad dan mengabdikan diri pada istana Pangeran Buwaihi sebagai bendaharawan dan pernah memangku beberapa jabatan lain. Dia mengkombinasikan karier politik dengan peraturan filsafat. Tidak hanya di istana Dinasti  Buwaihi di Baghdad, ia juga mengabdikan diri di Isfahan dan Rayy. Akhir hidupnya banyak dicurahkan untuk studi dan menulis. Ibnu Miskawaih lebih dikenal sebagai seorang filsuf akhlak (etika) walaupun perhatiannya luas meliputi ilmu-ilmu yang lain, seperti kedokteran, bahasa, sastra, dan sejarah. Bahkan dalam literatur filsafat Islam, tampaknya hanya Ibnu Miskawaih inilah satu-satunya tokoh filsafat akhlak. Ibnu Miskawah memiliki dua sisi yakni praktik dan teori. Dia memberikan peraturan untuk kelestarian kesehatan moral berdasarkan pandangan budidaya karakter. Ini menjelaskan cara di mana berbagai bagian jiwa dapat dibawa bersama ke dalam harmoni, sehingga mencapai kebahagiaan.

Ini adalah peran filsuf moral untuk menetapkan aturan untuk kesehatan moral, seperti dokter menetapkan aturan untuk kesehatan fisik. Kesehatan moral didasarkan pada kombinasi pengembangan intelektual dan tindakan praktis. Ibnu Miskawaih menggunakan metode eklektik dalam menyusun filsafatnya, yaitu dengan memadukan berbagai pemikiran-pemikiran sebelumnya dari Plato, Aristoteles, Plotinus, dan doktrin Islam. Namun karena inilah mungkin yang membuat filsafatnya kurang orisinal. Dalam bidang-bidang berikut ini tampak bahwa Ibnu Miskawayh hanya mengambil dari pemikiran-pemikiran yang sudah dikembangkan sebelumnya oleh filsuf lain.

Ibnu Miskawaih menganut paham Neo-Platonisme tentang penciptaan alam oleh Tuhan. Ibnu Miskawaih menjelaskan bahwa entitas pertama yang memancar dari Tuhan adalah ‘aql fa’al (akal aktif). Akal aktif ini bersifat kekal, sempurna, dan tidak berubah. Dari akal ini timbul jiwa dan dengan perantaraan jiwa timbul planet (al-falak). Pancaran yang terus-menerus dari Tuhan dapat memelihara tatanan di alam ini, menghasilkan materi-materi baru. Sekiranya pancaran Tuhan yang dimaksud berhenti, maka berakhirlah kehidupan dunia ini. Kitab Tahārah al-A’rāq merupakan karya yang paling tinggi dan menunjukkan fakta-fakta kompleksitas yang konseptual sekali. Dalam karyanya itu, ia menetapkan untuk menunjukkan bagaimana kita dapat mungkin memperoleh watak yang baik untuk melakukan tindakan yang benar dan terorganisir serta sistematis.

Menurut  Ibnu Miskawaih, jiwa adalah abadi dan substansi  bebas yang mengendalikan tubuh. Itu intisari berlawanan pada tubuh, sehingga tidak mati karena terlibat dalam satu gerakan lingkaran dan gerakan abadi, direplikasi oleh organisasi dari surga. Gerakan ini berlangsung dua arah, baik menuju alasan ke atas dan akal yang aktif atau terhadap masalah ke bawah.  Kebahagiaan kami timbul melalui gerakan ke atas, kemalangan kami melalui gerakan dalam arah berlawanan.

Dengan memakai aturan pribadi moral, Miskawaih membagi kebijaksanaan menjadi tujuh: ketajaman intelegensi, kesigapan akal, kejelasan pemahaman, fasilitas perolehan, ketepatan dalam membedakan, penyimpanan dan pengungkapan kembali; sebelas bagian dalam keberanian, yaitu: kemurah hatian, kebersamaan, ketinggian pengharapan, keteguhan, kesejukan, keterarahan, keberanian, kesabaran, kerendahdirian, semangat dan pemaaf; dua belas dalam kesederhanaan, yaitu: malu, ramah, benar, damai, menahan diri, sabar, berarti, tenang, saleh, keteraturan, menyeluruh dan kebebasan; dan sembilan belas bagian dalam keadilan, yaitu: persahabatan, persatuan, kepercayaan, kasih sayang, persaudaraan, pengajaran, keserasian, hubungan yang terbuka, ramah tamah, taat, penyerahdirian, pengabdian pada Tuhan, meninggalkan permusuhan, tidak membicarakan sesuatu yang menyakiti orang lain, membahas sifat keadilan, tak mengenak ketidakadilan dan lepas dari mempercayai yang hina, pedagang yang jahat dan penipu.[9]

Ibnu Miskawaih membahas tentang kebaikan dengan menggabungkan ide Aristoteles dengan Platonic. Menurut dia, kebaikan merupakan penyempurnaan dari aspek jiwa (yakni, alasan manusia) yang merupakan inti dari kemanusiaan dan membedakan dari bentuk keberadaan rendah.

Ibnu Miskawaih dikenal sebagai Bapak Etika Islam. Ia telah merumuskan dasar-dasar etika di dalam karya monumentalnya yang diberi judul Tahdzīb al-Akhlāq wa Tathīr al-A’rāq (pendidikan budi dan pembersihan akhlaq). Sementara itu, sumber filsafat etika ibnu Miskawaih berasal dari filsafat Yunani, peradaban Persia, ajaran Syariat Islam, dan pengalaman pribadi.[10]

b. Karya-karyanya

Dalam hidupnya Ibnu Miskawaih sempat memunculkan banyak karya dari berbagai bidang keilmuan. Karya-karya yang pernah ditulisnya antara lain;

1.  al-Fawz al-Akbār

2.  al-Fawz al-Asghār

3.  Tajārib al-Umām (sejarah tentang banjir besar yang ditulisnya pada tahun 390 H / 979 M)

4.  Uns al-Farīd (koleksi anekdot, syi’ir, peribahasa, dan kata-kata hikmah)

5.  Tartīb al-Sa’ādāt (isinya akhlak dan politik)

6.  al-Mustawfā (isinya sya’ir-sya’ir pilihan)

7.  Jāwidān Khirad (koleksi ungkapan bijak)

8.  al-Jāmi’

9.  al-Siyāb

10.  Tahdhib al-Akhlāq

11.  Risālah fi al-ladhdhat wa al-Ālam fi Jawhar al-Nafs

12.  al-Jawab fi Masa’il al-Salas

13.  Tahārat al-Nafs

c. Konsep Pemikiran Ibnu Miskawaih tentang Akhlak

Menurut Ibnu Miskawaih, al-akhlāq merupakan bentuk jamak dari khuluq yang berarti peri keadaan jiwa yang mengajak seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa difikirkan dan diperhitungkan sebelumnya. Sehingga dapat dijadikan fitrah manusia maupun hasil dari latihan-latihan yang telah dilakukan, hingga menjadi sifat diri yang dapat melahirkan khuluq yang baik. Kata dia, ada kalanya manusia mengalami perubahan khuluq sehingga dibutuhkan aturan-aturan syariat, nasihat, dan ajaran-ajaran tradisi terkait sopan santun.[11]

Ia berpendapat jiwa manusia terdiri atas tiga tingkatan, yakni  nafsu kebinatangan (al-bahimiyah) yang paling rendah, nafsu binatang buas (al-sabu’iyyah) pada level sedang, dan jiwa yang cerdas (al-natiqah) level paling baik.[12] Dikatakan juga, bahwa setiap manusia memiliki potensi asal yang baik dan tidak akan berubah menjadi jahat, begitu pula manusia yang memiliki potensi asal jahat sama sekali tidak akan cenderung kepada kebajikan, adapun mereka yang yang bukan berasal dari keduanya maka golongan ini dapat beralih pada kebajikan atau kejahatan, tergantung dengan pola pendidikan, pengajaran dan pergaulan.

Oleh karena konsentrasinya dalam bidang inilah Ibnu Miskawaih banyak disorot dikarenakan langkanya filsuf Islam yang membahas bidang ini. Secara praktek etika sebenarnya sudah berkembang di dunia Islam, terutama karena Islam sendiri sarat berisi ajaran tentang akhlak. Bahkan tujuan diutusnya Nabi Muhammad Saw adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ibnu Miskawaih mencoba menaikkan taraf kajian etika dari praktis ke teoritis-filosofis, namun dia tidak sepenuhnya meninggalkan aspek praktis.

Moral, etika atau akhlak menurut Ibnu Miskawaih adalah sikap mental yang mengandung daya dorong untuk berbuat tanpa berpikir dan pertimbangan. Sikap mental terbagi dua, yaitu yang berasal dari watak dan yang berasal dari kebiasan dan latihan. Akhlak yang berasal dari watak jarang menghasilkan akhlak yang terpuji; kebanyakan akhlak yang jelek. Sedangkan latihan dan pembiasaan lebih dapat menghasilkan akhlak yang terpuji. Karena itu Ibnu Miskawaih sangat menekankan pentingnya pendidikan untuk membentuk akhlak yang baik. Dia memberikan perhatian penting pada masa kanak-kanak, yang menurutnya merupakan mata rantai antara jiwa hewan dengan jiwa manusia.

Inti kajian akhlak, menurut Ibnu Miskawaih[13], adalah kebaikan (al-khair), kebahagiaan (al-sa’adah), dan keutamaan (al-fadilah). Kebaikan adalah suatu keadaan dimana kita sampai kepada batas akhir dan kesempurnaan wujud. Kebaikan ada dua, yaitu kebaikan umum dan kebaikan khusus. Kebaikan umum adalah kebaikan bagi seluruh manusia dalam kedudukannya sebagai manusia, atau dengan kata lain ukuran-ukuran kebaikan yang disepakati oleh seluruh manusia. Kebaikan khusus adalah kebaikan bagi seseorang secara pribadi. Kebaikan yang kedua inilah yang disebut kebahagiaan. Karena itu dapat dikatakan bahwa kebahagiaan itu berbeda-beda bagi tiap orang.

Ada dua pandangan pokok tentang kebahagiaan. Yang pertama diwakili oleh Plato yang mengatakan bahwa hanya jiwalah yang mengalami kebahagiaan. Karena itu selama manusia masih berhubungan dengan badan ia tidak akan memperoleh kebahagiaan. Pandangan kedua dipelopori oleh Aristoteles, yang mengatakan bahwa kebahagiaan dapat dinikmati di dunia walaupun jiwanya masih terkait dengan badan.

Ibnu Miskawah mencoba mengompromikan kedua pandangan yang berlawanan itu. Menurutnya, karena pada diri manusia ada dua unsur, yaitu jiwa dan badan, maka kebahagiaan meliputi keduanya. Hanya kebahagiaan badan lebih rendah tingkatnya dan tidak abadi sifatnya jika dibandingkan dengan kebahagiaan jiwa. Kebahagiaan yang bersifat benda mengandung kepedihan dan penyesalan, serta menghambat perkembangan jiwanya menuju ke hadirat Allah. Kebahagiaan jiwa merupakan kebahagiaan yang sempurna yang mampu mengantar manusia menuju berderajat malaikat.

Tentang keutamaan Ibnu Miskawaih berpendapat bahwa asas semua keutamaan adalah cinta kepada semua manusia. Tanpa cinta yang demikian, suatu masyarakat tidak mungkin ditegakkan. Ibnu Miskawaih memandang sikap ‘uzlah (memencilkan diri dari masyarakat) sebagai mementingkan diri sendiri. ‘Uzlah tidak dapat mengubah masyarakat menjadi baik walaupun orang yang uzlah itu baik. Karena itu dapat dikatakan bahwa pandangan Ibnu Miskawaih tentang akhlak adalah akhlak manusia dalam konteks masyarakat.

Ibnu Miskawaih juga mengemukakan tentang penyakit-penyakit moral. Di antaranya adalah rasa takut, terutama takut mati, dan rasa sedih. Kedua penyakit itu paling baik jika diobati dengan filsafat.[14]

 

2. Al-Ghazali

a. Biografi

Imam Al Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi al-Syafi’i. Imam al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 H. / 1058 M. di Thus, Khurasan (Iran). Ia dipanggil dengan sebutan Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar beliau al-Ghazali al-Thusi berkaitan dengan gelar ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan. Sedangkan gelar al-Syafi’i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi’i. Beliau berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli fikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jabatan sebagai Konselor di Madrasah Nizamiyah, pusat pendidikan tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 4 Jumadil Akhir tahun 505 H / 1111 M. di tanah kelahirannya, Thus, dan dimakamkan di sana.

Awal masa belajarnya ia dapatkan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan beliau menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, beliau mula-mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqh, filsafat, dan mempelajari segala pendapat keempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu, beliau melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqh, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, beliau telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 H. Kemudian beliau dilantik pula sebagai Naib Konselor di sana. Beliau telah mengembara ke beberapa tempat seperti Makkah, Madinah, Mesir dan Jerussalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana dan mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan spritualnya, ia menulis kitab Ihyā’ Ulūm al-Dīn yang memberi sumbangan besar dalam bidang akhlak islamiyah. Ia juga seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal dengan sebutan Algazel di dunia Barat.

b. Karya-karyanya

Sebagaimana disebutkan bahwa al-Ghazali merupakan kontributor terbesar pada masanya yang meliputi berbagai disiplin ilmu, di antaranya :

a. Bidang Teologi, antara lain;

1)      Al-Munqīdh min adh-Dalāl

2)      Al-Iqtisād fi al-I`tiqād

3)      Kitāb al-Arba’in fi Usūl ad-Dīn

4)      Mizān al-Amal

b. Tasawuf dan akhlak, antara lain;

1)      Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama) merupakan karyanya yang terkenal.

2)      Mishkah al-Anwār

3)      Kimmiyyah as-Sa’ādah

c. Filsafat, yaitu;

1) Maqāsid al-Falāsifah

2)      Tahāfut al-Falāsifah, buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushd dalam buku Tahāfut al-Tahāfut (dialih-bahasakan ke dalam Bahasa Inggris menjadi The Incoherence of the Incoherence).

d. Fiqh, antara lain; Al-Mustashfā min `Ilm al-Usūl.

e. Logika

1)  Mi`yār al-‘Ilm (alih Bahasa Inggris, The Standard Measure of Knowledge)

2)  al-Qistas al-Mustaqīm (The Just Balance)

c. Konsep Pemikiran al-Ghazali tentang Moral atau Etika

Dalam karya-karya al-Ghazali, persoalan akhlak belum menjadi masalah pokok. Hanya dalam satu karya masa awalnya, Mizan al-‘Amal, akhlak merupakan bahan pemikiran utama. Kebanyakan karya-karya akhirnya, bersifat etis moralitas yang menjamin kebahagiaan sempurna. Adapun teori etika yang dikembangkannya bersifat religius dan sufi. Hal itu terlihat dengan jelas penamaan al-Ghazali terhadap ilmu ini pada karya-karya akhirnya, setelah ia menjadi sufi, tidak lagi menggunakan ungkapan ‘ilm al-akhlaq, tetapi dengan “ilmu jalan akhirat” (‘ilm tariq al-akhirat) atau jalan yang dilalui para nabi dan leluhur saleh (al-salaf al-salih). Ia juga menamakannya dengan “ilmu agama praktis” (‘ilm al-mu’amalah).

Ada tiga teori penting mengenai tujuan mempelajari akhlak, yaitu;

(a) sebatas sebagai studi murni teoritis, yang berusaha memahami ciri kesusilaan (moralitas), tetapi tanpa maksud memmpengaruhi perilaku orang yang mempelajarinya.

(b) untuk meningkatkan sikap dan perilaku sehari-hari

(c) sebagai subjek teoritis dalam menemukan kebenaran tentang masalah moral, maka dalam penyelidikan akhlak harus terdapat kritik yang terus-menerus mengenai standar moralitas yang ada, sehingga akhlak menjadi suatu subjek praktis.

Di antara ketiga tuhuan di atas al-Ghazali lebih condong pada tujuan kedua. Dia menyatakan bahwa studi tentang akhlak dimaksudkan guna latihan kebiasaan, tujuan latihan adalah untuk meningkatkan keadaan jiwa agar kebahagiaan dapat dicapai di akhirat.[15] Tanpa kajian ilmu ini, kebaikan tak dapat dicari dan keburukan tak dapat dihindari dengan sempurna. Prinsip-prinsip moral dipelajari dengan maksud menerapkan semuanya dalam kehidupan sehari-hari. Al-Ghazali menegaskan bahwa pengetahuan yang tidak diamalkan tidak lebih daripada kebodohan.[16] Berdasarkan pendapatnya ini, dapat dikatakan bahwa akhlak yang dikembangkan al-Ghazali bercorak teleologis (ada tujuannya), sebab ia menilai amal dengan mengacu pada akibatnya. Corak etika ini mengajarkan, bahwa manusia mempunyai tujuan yang agung, yaitu kebahagiaan di akhirat, dan bahwa amal itu baik kalau ia menghasilkan pengaruh pada jiwa yang membuatnya menjurus ke tujuan tersebut, dan dikatakan amal itu buruk, kalau menghalangi jiwa mencapai tujuan itu. Bahkan ibadah shalat dan zakat adalah baik disebabkan akibatnya bagi jiwa. Derajat baik atau buruk berbagai amal berbeda oleh sebab perbedaa dalam hal pengaruh yang ditimbulkannya dalam jiwa pelakunya.

Adapun masalah kebahagiaan, menurut al-Ghazali tujuan manusia adalah kebahagiaan akhirat (al-sa’adah al-ukhrawiyyah), yang bisa diperoleh jika persiapan yang perlu untuk itu dilaksanakan dalam hidup ini dengan mengendalikan sifat-sifat manusia dan bukan dengan membuangnya. Kelakuan manusia dianggap baik, jika itu membantu bagi kebahagiaan akhiratnya. Kebaikan ukhrawi inilah yang menjadi tema sentral ajaran para rasul dan demi menggairahkan orang ke arah itulah, maka semua kitab suci diwahyukan. Karena itu, ilmu dan amal merupakan syarat pokok memperoleh kebahagiaan.

Kemuliaan dalam penilaian Allah swt. terletak pada usaha mencapai kebahagiaan ukhrawi; barang siapa yang gagal mendapatkannya lebih hina dari hewan yang rendah, karena hewan-hewan akan musnah sedangkan orang-orang yang gagal itu akan menderita sengsara. Kebahagiaan ukhrawi mempunyai empat ciri khas, yakni berkelanjutan tanpa akhir, kegembiraan tanpa dukacita, pengetahuan tanpa kebodohan, dan kecukupan (al-ghina), yang tak membutuhkan apa-apa lagi guna kepuasan yang sempurna. Tentunya dengan tetap sesuai dengan al-Qur’an dan Hadis adalah surga, sedangkan tempat kesengsaraan adalah neraka. Nasib setiap orang akan ditentukan pada hari kebangkitan, tapi akibat kebahagiaan dan kesengsaraan itu mulai segera setelah kematian. Pada hari kebangkitan, jiwa itu dikembalikan lagi ke suatu jasad; orang yang bangkit itu dengan demikian akan mempunyai badan dan jiwa, dan akan hidup abadi dalam bentuk ini.[17]

Kebahagiaan di surga ada dua tingkat, yang rendah dan yang tinggi. Yang rendah terdiri dari kesenangan indrawi mengenai makanan dan minuman, pergaulan dengan bidadari, pakaian indah, istana dan seterusnya. Tingkat ini pantas bagi orang-orang baik kelas rendah yang disebut sebagai orang-orang saleh (alabrar, al-salihun), yang takwa pada Allah (al-muttaqun) dan orang yang benar (ashab al-yamin). Kesenangan indrawi akan memuaskan sekali bagi mereka, karena untuk kenikmatan semacam itulah mereka membekali diri dalam hidup ini. Kebahagiaan yang lebih tinggi adalah berada dekat dengan Allah, dan menatap wajah-Nya yang Agung senantiasa. Kenikmatan pandangan (al-ru’yah) dan pertemuan (al-liqa’) dengan Dia merupakan kebahagiaan tertinggi, puncak kesejahteraan dan bentuk anugerah Allah yang terbaik. Tidak ada di surga yang lebih nikmat daripada memandang keindahan Ilahi.

Kesenangan indrawi seumpama kesukaan yang dinikmati hewan makan rumput di padang, sedangkan kesenangan yang disebut terakhir merupakan kesenangan spritual yang disebut dalam hadis Qudsi; “Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang tidak pernah timbul dalam benak pikiran manusia”. Kebahagiaan tertinggi ini diperoleh oleh para nabi, orang-orang suci (awliya’), ahli ma’rifat (al-‘arifun), yang paling jujur (al-siddiqun), yang mendekati-Nya (al-muqarrabun), yang mencintai-Nya (al-muhibbun), dan yang ikhlas (al-mukhlisun). Tiap tingkat kebahagiaan dibagi lagi menjadi bagian-bagian tingkat atau bagian-bagian derajat kebahagiaan yang tak terbilang jumlahnya. Bagian derajat terrendah dari tingkat tertentu bersinggungan dengan anak derajat tertinggi dari tingkat yang langsung di bawahnya dan seterusnya. Lebih lanjut al-Ghazali[18] menyatakan bahwa, al-Khuluq ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

 

3. Ibnu Hazm

a. Biografi

Nama lengkapnya adalah Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm bin Ghalib bin Saleh bin Khalaf bin Ma’dan bin Sufyan bin Yazid bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayah bin Abd Syams al-Umawiyah. Lahir di Qurtubah pada 994 M dan wafat pada 1064 M. Dia hidup di tengah-tengah keluarga yang sangat berkecukupan dan dijadikan kesempatan sebagai syarat keberhasilan mencari ilmu pengetahuan.[19] Kakek beliau yang bernama Yazid adalah orang pertama yang masuk Islam diantara para kerabat beliau yang lain, berasal dari Persia sedangkan kakeknya –Khalaf bin Ma’dan- adalah orang pertama yang masuk kota Andalus. Nama panggilan beliau adalah “Abu Muhamad’ atau “Ibn Hazm”. Ia tumbuh dan besar di kalangan para pembesar dan pejabat karena kedudukan sang ayah yang menjadi salah satu menteri kerajaan. Walaupun beliau dikelilingi dengan gemerlap harta, kilauan emas permata tidak menjadikan beliau lupa akan kedudukan dan kewajiban agama, beliau sangat interest dengan ilmu dan wacana. Hal itu dilatarbelakangi oleh didikan moral dan agama yang ditanamkan dalam diri Ibn Hazm. Kondisi sosial, politik, mental dan intelektual yang melatarbelakangi sekaligus menjadi faktor pendorong untuk menjalani hidup dalam pengembaraan, menjelajahi dunia demi mencari jati diri dan hikmah. Disaat menjalani masa perantauan itulah beliau mulai mengenal ilmu dan ulama, mendalami intisari agama melalui para ilmuwan handal kala itu. Misalnya, Abu Muhamad ibn Dakhun, Abdullah al-Azdi, Abi Qasim Abdurahman bin Abi Yazid al-Misri, dan masih banyak lagi sederatan ulama yang kadar keilmuannya diakui oleh rakyat Qordoba.[20] Ia terkenal sebagai seorang filsuf Islam, ahli psikolog, Sejarahwan, ulama tekstualis, dan ahli tata negara.

Karya-karyanya yang sangat monumental, antara lain, adalah al-Fasl fi al-milal wa al-Nihal dan Kitāb al-Akhlāq wa al-Siyar fi Mudāwah al-Nafs. Yang terakhir disebutkan inilah merupakan kumpulan konsep tentang filsafat akhlak.[21]

b. Konsep Pemikiran Ibnu Hazm tentang Moral atau Etika

Konsep akhlak menurut Ibn Hazm terangkum dalam kitab al-Akhlaq Wa as-Siyar fi Mudāwah al-Nafs. Aspek-aspek yang dikaji meliputi konsep akhlak, metode dalam mempertingkatkan akhlak terpuji dan pandangan beliau dalam menyatakan tentang penyakit akhlak dan rawatannya. Konsep akhlak yang dinyatakan oleh Ibn Hazm ialah akhlak dicipta, dibentuk dan disusun oleh Allah swt. Ibn Hazm telah mengetengahkan beberapa asas yang dianggap penting untuk membentuk akhlak terpuji dalam diri manusia, di antaranya ialah dengan menuntut ilmu, percintaan, persahabatan dan memberi nasihat. Kerusakan akhlak menurutnya merupakan sesuatu yang mudah dilakukan. Ia telah menyatakan beberapa penyakit akhlak yang dianggap sebagai asas kerusakan akhlak, yaitu menipu, cemburu dan bermegah-megahan.

Dalam pandangannya, akhlak merupakan sarana ukur keselamatan manusia dalam menghadapi dua aspek kehidupan, yaitu kebahagiaan dan kemalangan. Semua tergantung pada amal perbuatannya dan karakter yang melingkupinya. Orang yang bahagia adalah orang yang suka mengerjakan keutamaan dan ketaatan serta menjauh dari perbuatan tercela dan kemaksiatan. Kemudian orang yang celaka adalah sebaliknya.

D. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:

1.      Filsafat etika adalah kajian untuk mencari hakikat nilai-nilai baik dan buruk yang berkaitan dengan perbuatan dan tindakan seseorang, yang dilakukan dengan penuh kesadaran berdasarkan pertimbangan pemikirannya.

2.      Tokoh-tokoh filsafat etika dalam Islam adalah Ibnu Miskawaih, al-Ghazali, dan Ibnu Hazm. Dalam buah pikiran Ibnu Miskawaih, akhlak bisa diupayakan secara sadar dan terus menerus bukan datang dengan kebetulan. Lain halnya dengan al-Ghazali, ia lebih menitikberatkan pada tujuan dari akhlak, yaitu tujuan ukhrawi. Dan terakhir, konsep akhlak Ibnu Hazm adalah terfokus pada perilaku atau akhlak sosial akibat pengaruh dari situasi sosial politik pada masanya.

E. Penutup

Demikian makalah yang sangat sederhana ini kami sampaikan dan atas kesalahan dan kekurangannya kami mohon masukan demi kesempurnaan makalah ini meskipun sudah dilakukan usaha revisi. Semoga bermanfaat!

Daftar Pustaka

 

Abdullah, M. Amin, Antara Al Ghazali Dan Kant Filsafat Etika Islam, Bandung: Mizan, 2002.

Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Beirut: Dar al-Hikmah, 1985.

Al-Sahmarani, As’ad. Al-Akhlāq fi al-Islām wa al-Falsafah al-Qadīmah. Beirut: Dar al-Nufais, 1994.

Ansari, Endang saifuddian, Ilmu, Filsafat, dan Agama. Surabaya: PT. Bintang Ilmu, 1987.

http/wikipedia.com/2009/05/11/ensiklopedi bebas//

http://blog.faisalsaleh.net/2009/06/18/ibnu-miskawaih-bapak-etika-islam/

http://quran.al-islam.com/2009/02/03/mal/

Ibnu Miskawaih, Tahdzīb al-Akhlāq. CD Maktabah Syamilah

Hitti, Philip K., History of The Arabs, terj. Arab oleh Edward Jurji et.al., Beirut: t.p., 1952.

Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: GMP, 1999.

Shubhi, Ahmad Mahmud, Filsafat Etika, Jakarta: Serambi, 2001.

Muhammad Abul Quasem, Etika Al-Ghazali: Etika Majemuk di dalam Islam, diterjemahkan oleh J. Mahyudin, dari The Ethics of Al-Ghazali: A Composite Ethics in Islam, Bandung: Pustaka, 1988.

 

 

 

 


[1] HR. al-Baihaqiy dari Abu Hurairah. Al-Baihaqiy, Sunan al-Baihaqiy, (Mekah: Dar al-Baz, 1994), h. 191.

[2] M. Amin Abdullah, Antara Al Ghazali Dan Kant Filsafat Etika Islam, (Bandung: Mizan, 2002), h.15.

[3] Endang saifuddin Ansari, Ilmu, Filsafat, dan Agama. (Surabaya: PT. Bintang Ilmu, 1987), h. 83.

[4] Ibid.

[5] Al-Sahmarani, As’ad. Al-Akhlāq fi al-Islām wa al-Falsafah al-Qadīmah. (Beirut: Dar al-Nufais, 1994), h. 17.

[7] http/wikipedia.com/ensiklopedi bebas//16/11/2009/

[8] Al-Sahmarani, As’ad. Al-Akhlāq fi al-Islām…, h. 143

[9] Al-Sahmarani, As’ad. Al-Akhlāq fi al-Islām…, h. 154.

[11] الخلق حال للنفس داعية لها إلى أفعالها من غير فكر ولا روية        .

[12] Philip K. Hitti, History of The Arabs, terj. Arab oleh Edward Jurji et.al., (Beirut: t.p., 1952), h. 137.

[13] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), h. 64-66.

[14] Ibnu Hazm, Tahdhib al-Akhlaq, CD Maktabah Syamilah.

[15] Al-Ghazali, Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, jilid IV, (Beirut: Dar al-Hikmah, 1985), h. 272-273

[16] Al-Ghazali, Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, jilid III, h. 8

[17] Muhammad Abul Quasem, Etika Al-Ghazali: Etika Majemuk di dalam Islam, diterjemahkan oleh J. Mahyudin, dari The Ethics of Al-Ghazali: A Composite Ethics in Islam, (Bandung: Pustaka, 1988), h. 50-52

[18] Al-Ghazali, Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, h. 52.

[19] Al-Sahmarani, As’ad. Al-Akhlāq fi al-Islām…, h. 161

[21] Ibid. h. 162-163

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s