metodologi periwayatan hadis

METODOLOGI PERIWAYATAN HADIS

(Kajian Terhadap Periwayatan Hadis bi al-Lafẓīy wa al-Ma’na

dan Metode al-Taḥammul al-Ḥadīth wa Adāʻuhū)

A. Pendahuluan

Hadis[1] Nabi Saw. merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an yang dihadirkan sebagai salah satu petunjuk bagi umat Islam dalam menjalankan tuntunan agamanya. Keberadaan hadis dalam kehidupan masyarakat menjadi penting tatkala dalam al-Qur’an tidak didapatkan penjelasan yang rinci dalam suatu persoalan.

Namun, kehadiran hadis sebagai sumber pokok ajaran Islam, memang banyak dipersoalkan, hal ini berkaitan dengan matan, perawi, sanad[2] dan lainnya, yang kesemuanya menjadi penentu boleh atau tidaknya suatu hadis untuk dijadikan hujjah. Hal ini yang menyebabkan ijtihad para ulama hadis bisa melahirkan dua komponen ilmu dalam mempelajari, memahami, menganalisa dan mengamalkan hadis Nabi saw, yaitu yang dikenal dengan ilmu riwayah dan ilmu dirayah hadis[3]. Keduanya tidak dapat dipisahkan sebagai dasar untuk mengetahui otentisitas hadis.

Di awal masa Islam sudah timbul perbedaan pemahaman dalam penyampaian redaksi hadis yang dilakukan para sahabat antara tekstual dengan kontekstual sehingga melahirkan apa yang disebut dengan periwayatan hadis bi al-lafẓi wa al-ma’na. Pada tingkat selanjutnya ada permasalahan dalam tata cara penerimaan dan penyampaian hadis yang dikenal dengan istilah taḥammul al-ḥadīth wa adā’uhū, yang bisa menentukan kualitas sebuah hadis karena terkait dengan orang yang meriwayatkannya.

Dalam makalah ini kami akan mendeskripsikan dan menganalisa lebih jauh tentang taḥammul al-ḥadīth wa adā’uhū dan periwayatan hadis bi al- lafẓi wa al-ma’na, sebagai salah satu bidang cakupan penentu kevalidan sebuah hadis.

B. Definisi Periwayatan Hadis bi al-Lafẓiy dan bi al-Ma’na

Ada dua tata cara dalam proses transmisi redaksi hadis, yakni periwayatan yang dilakukan secara lafal dan periwayatan secara makna.

1. Definisi Periwayatan Hadis bi al-Lafẓiy

Periwayatan hadis dengan lafal adalah cara periwayatan hadis yang disampaikan sesuai dengan lafal yang disabdakan oleh Nabi saw. secara persis tanpa ada perubahan sedikitpun pada tatanan kalimatnya. Atau dengan kata lain, meriwayatkan hadis dengan lafal yang masih asli dari Nabi saw. Riwayat hadis dengan lafal ini sebenarnya tidak ada persoalan, karena sahabat menerima langsung dari Nabi baik melalui perkataan maupun perbuatan, dan pada saat itu sahabat langsung menulis atau menghafalnya.

Sahabat yang terkenal ketat dalam menjaga otentisitas redaksi hadis adalah Abdullah bin Umar. Ia tidak memperkenankan adanya pengurangan atau penambahan satu huruf pun dari redaksi hadis. Dalam sebuah kasus, ia pernah menegur ‘Ubaid bin Amir ketika meletakkan puasa dalam lima prinsip Islam pada urutan nomor tiga yang seharusnya ada pada urutan nomor empat sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw.[4]

Dikisahkan pula bahwa Barrā’ ibn ‘Āzib pernah diajari oleh rasulullah saw. sebuah do’a sebelum tidur yang didalamnya ada kata “bi nabiyyika” dan ketika itu al-Barra’ menyakan apakah kata itu bisa diganti dengan “bi rasūlika” beliau menolak, dan tetap meneruskan dengan kata “bi nabiyyika”. Untuk lebih jelasnya penulis bisa menyajikan bentuk doa yang diajarkan oleh Nabi saw kepada al-Barra’ bin ‘Azib,[5] sebagai berikut;

إذا أويت الى فراشك طاهرا فتوسد يمينك ثم قل: اللهم أسلمت وجهي اليك وفوضت أمري اليك وألجأت ظهري اليك لا ملجأ ولا منجى الا اليك. أمنت بكتابك الذي أنزلت ونبيك الذي أرسلت.

“Apabila kamu berbaring di tempat tidurmu dalam keadaan suci lalu meletakkakan tangan kananmu (pada kepalamu sebagai bantal) maka berdoalah; Ya Allah aku sejahterakan wajahku di hadapan-Mu, aku pasrahkan urusanku pada-Mu, dan aku lindungkan harapanku pada-Mu, tiada pelindung dan tempat berharap selain kepada Engkau. Aku beriman pada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus.”[6]

Tingkat kepedulian para sahabat dalam menjaga otentisitas hadis ini tergambar jelas ketika mereka tidak gegabah dalam meriwayatkan hadis sebelum mereka yakin betul kebenaran lafal dan ketepatan huruf serta memahami maknanya. Jika mereka menemukan keraguan untuk meriwayatkan sebuah hadis, mereka memilih diam. Hal demikian dilakukan karena mengingat peringatan keras Nabi saw yang akan memasukkan mereka pada golongan pendusta hadis.

Sikap demikian tidak hanya terjadi di tingkatan pada sahabat tetapi dapat ditemui pula dari pendapat segolongan ulama fiqh, ulama ushul dan ulama hadis yang tidak memberikan ruang sedikitpun pada periwayatan hadis secara makna. Mereka mewajibkan periwayatan hadis dengan lafal, dan tidak memperbolehkan periwayatan dengan makna sama sekali.

Akan tetapi dalam kenyataannya periwayatan hadis dengan lafal ini sangat sedikit jumlahnya. Ciri-ciri hadis yang memang harus diriwayatkan dengan lafal ini hanya terbatas pada antara lain:[7]

a.       Hadis yang merupakan lafal-lafal ibadah (ta’abbudiyyah), seperti tentang bacaan azan, zikir, doa, syahadat, dan lain sebagainya.

Hadis yang bisa dijadikan contoh untuk lafal ibadah ini seperti bacaan dzikir yang diriwayatkan dari Shaddad bin Aus ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

سيد الاستغفار: اللهم أنت ربي، لا إله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أبوء لك بنعمتكّ عليّ، وأبوء لك بذنبي فاغفر لي، فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت، أعوذ بك من شر ما صنعت. إذا قال حين يمسي فمات دخل الجنة، أو كان من أهل الجنة، وإذا قال حين يصبح فمات من يومه مثله. [8]

“Paling tingginya ucapan istighfar adalah: ‘Ya Allah Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau menciptakanku maka aku adalah hamba-Mu. Dan atas janji dan ancaman-Mu aku lakukan semampuku. Aku akui segala nikmat-Mu bagiku, dan ku akui segala dosa ini pada-Mu maka ampunilah aku karena tiada yang bisa mengampuni segala dosaku selain Engkau. Aku berlindung pada-Mu dari keburukan apa yang aku lakukan’. Jika ini dibaca pada waktu sore kemudian ia mati maka ia langsung masuk surga atau ia termasuk dari penduduk surga, demikian juga jika dibaca pada waktu pagi. ”

 

b.      Jawāmi’ al-kalimah (ungkapan-ungkapan Nabi saw yang sarat makna) karena Nabi saw memiliki faṣaḥaḥ dalam perkataan yang tidak dimiliki yang lainnya.

Bisa diambil contoh seperti sabda Nabi saw tentang umat Islam. Dari Abū Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده . والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه  [9]

“Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya.”

 

c.       Hadis yang berkaitan dengan masalah aqidah seperti tentang dzat dan sifat Allah, rukun Islam, rukun iman, dan sebagainya. Untuk kategori ini penulis mengambil contoh hadis tentang sifat Allah swt, seperti;

يقبض الله الأرض يوم القيامة، ويطوي السماء بيمينه، ثم يقول: أنا الملك، أين ملوك الأرض؟ [10]

“Pada hari kiamat Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Dia berfirman; ‘Akulah yang Raja Diraja, dimanakah para raja dunia itu?’”

 

Namun ketika dihadapkan pada persoalan bahwa hadis bukan hanya berbentuk perkataan saja tetapi juga dengan perbuatan dan ketetapan Nabi saw, para ulama yang bersikeras mempertahankan riwayat hadis secara lafal, seperti Abu Bakar al-Arabi, Muhammad bin Sirin, Raja’ bin Haywah, Qasim bin Muhammad, dan Sa’lab bin Nahwiy, mereka berpendapat bahwa periwayatan redaksi hadisnya secara makna sepenuhnya hanya diperbolehkan pada tingkatan sahabat, mengingat karena para sahabat memiliki pengetahuan bahasa Arab yang tinggi (faṣaḥaḥ), meskipun tidak setingkat dengan susunan kalimat Nabi saw. dan mereka telah menyaksikan secara langsung keadaan dan perbuatan Nabi saw.[11]

Menurut hemat penulis, periwayatan secara lafal tidak mungkin seluruh hadis bisa dilaksanakan mengingat pengertian hadis itu sendiri merupakan segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi saw, baik perkataan, perbuatan, penetapan, tekad dan cita-cita Nabi saw, yang tidak semua dalam bentuk perkataan sehingga keharusan periwayatan hadis harus dengan lafal itu tidak bisa terjadi. Tentunya hal ini tetap dalam batasan-batasan yang telah diungkapkan oleh para ulama di atas, yaitu tidak boleh masuk pada ranah hadis yang berbau aqidah, ibadah dan yang mengandung kalimat-kalimat yang sarat makna dari Nabi saw.

2. Definisi Periwayatan Hadis bi al-Ma’na

Dalam sejarah perjalanan hadis diketahui bahwa sepeninggal Rasulullah saw. periwayatan hadis itu diperketat agar tidak terjadi periwayatan yang bukan dari Nabi saw. tetapi mereka menyandarkannya pada Nabi saw demi kepentingan diri atau kelompok mereka. Yaitu, dengan mengharuskan para perawi menyampaikan hadis apa adanya, tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikitpun, sehingga redaksi hadis tidak mengalami perubahan sama sekali.

Tetapi dalam kenyataannya, banyak dijumpai hadis yang memiliki makna sama tapi diungkapkan dengan redaksi yang berbeda-beda. Karena itu, kita bisa menjumpai komentar hadis “muttafaq ‘alayh, wa al-lafẓ li Muslīm, atau wa al-lafẓ li al-Bukhārīy”. Dengan demikian, tampak sangat jelas bahwa periwayatan hadis secara makna itu ada dan diperbolehkan.

Bisa didefinisikan bahwa periwayatan hadis dengan makna adalah periwayatan hadis dengan maknanya saja sedangkan redaksinya disusun sendiri oleh orang yang meriwayatkan.[12] Atau dengan kata lain, apa yang diungkapkan oleh Rasulullah saw hanya dipahami maksudnya saja, lalu disampaikan oleh para sahabat dengan lafal atau susunan redaksi mereka sendiri. Hal ini dikarenakan para sahabat memiliki kualitas daya ingatan yang beragam, ada yang kuat dan ada pula yang lemah. Di samping itu, kemungkinan masanya sudah lama sehingga yang masih diingat hanya maksudnya sementara apa yang diucapkan Nabi sudah tidak diingatnya lagi.

Menukil atau meriwayatkan hadis secara makna ini hanya diperbolehkan ketika hadis-hadis belum terkodifikasi. Adapun hadis-hadis yang sudah terhimpun dan dibukukan dalam kitab-kitab tertentu (seperti sekarang), tidak diperbolehkan merubahnya dengan lafal/matan yang lain meskipun maknanya tetap tanpa ada perubahan.

Untuk memperjelas adanya hadis yang diriwayatkan secara makna penulis akan memberikan gambaran contoh sebagai berikut;

لا يجد احد حلاوة الايمان حتى يحب المرء لا يحبه الا لله و حتى ان يقذف فى النار احب اليه من ان يرجع الى الكفر بعد إن انقذه الله وحتى يكون الله ورسوله احب اليه مما سواهما. [13]

“Tidaklah seseorang akan mendapatkan manisnya iman sampai ia mencintai seseorang hanya karena Allah, lebih senang dilempar ke dalam neraka daripada kembali pada kekufuran sesudah ia diselamatkan oleh Allah, dan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada lainnya”.

ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار.[14]

“Tiga hal yang membuat seseorang akan merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari lainnya, ia mencintai seseorang karena Allah dan membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci untuk dicampakkan ke dalam neraka”.

 

Hadis di atas sama-sama menerangkan tema tentang iman, namun keduanya diungkapkan dengan redaksi yang berbeda, baik dalam penggunaan lafal maupun susunannya.

3. Sikap Para Sahabat dan Jumhur Ulama terhadap Periwayatan Hadis bi al-Ma’na

Para sahabat yang banyak menerima hadis dengan redaksi yang beragam, antara lain, adalah ‘Alī bin Abī Ṭālib, Ibnu Abbās, Anas bin Mālik, Abū Hurairah, ‘Amr bin ‘Ash, ‘Ikrāmah, dan lain sebagainya. Secara tidak langsung mereka memperbolehkan meriwayatkan hadis secara makna.[15]

Jumhur ulama pun sebenarnya telah sepakat memperbolehkan seseorang mendatangkan atau meriwayatkan hadis dengan maknanya saja tidak harus dengan lafal aslinya, tetapi dengan syarat ia termasuk orang yang berilmu sangat dalam mengenai Bahasa Arab, mengetahui sistem penyampaian dan penyusunan kalimatnya, dan berpandangan luas tentang fiqh beserta istilah-istilah hukum di dalamnya sehingga akan tetap terjaga dari pemahaman yang berlainan dan hilangnya kandungan hukum dari hadis tersebut. Kalau  tidak demikian maka tidak diperbolehkan meriwayatkan hadis hanya dengan maknanya saja dan wajib menyampaikan dengan lafal yang ia dengan dari gurunya.

Imam Shāfi’iy[16] menerangkan tentang sifat-sifat perawi;

“Hendaknya orang yang menyampaikan hadis itu seorang yang kepercayaan tentang agamanya lagi terkenal bersifat benar dalam pembicaraannya, memahami apa yang diriwayatkan, mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafal dan hendaklah dia dari orang yang menyampaikan hadis persis sebagaimana yang didengar, bukan diriwayatkan dengan makna, karena apabila diriwayatkan dengan makna sedang dia seorang yang tidak mengetahui hal-hal yang memalingkan makna niscaya tidaklah dapat kita mengetahui boleh jadi ia memalingkan yang halal kepada yang haram. Tetapi apabila ia menyampaikan hadis secara yang didengarnya, tidak lagi kita khawatir bahwa dia memalingkan hadis kepada yang bukan maknanya. Dan hendaklah ia benar-benar memelihara kitabnya jika dia meriwayatan dengan hadis itu dari kitabnya.”

 

Dari penjelasan ini nyatalah bahwa orang yang mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafal, boleh meriwayatkan dengan makna apabila dia tidak ingat lagi lafal yang asli, karena dia telah menerima hadis, lafal dan maknanya.

Bahkan, Imam Mawardi mewajibkan menyampaikan hadis dengan maknanya jika susunan lafalnya tidak bisa diingat lagi, sebab jika hadis tersebut tidak tersampaikan meski dengan maknanya, maka ia termasuk orang yang menyembunyikan sumber hukum Islam, yaitu hadis itu sendiri.

Dalam kesempatan lain Al-Māwardiy[17] juga berpendapat; “Jika seseorang tidak lupa kepada lafal hadis niscaya tidak boleh dia menyebutkan hadis itu dengan bukan lafalnya, karena di dalam ucapan-ucapan nabi sendiri terdapat faaa yang tidak terdapat pada perawinya.”

Pendapat lain diungkapkan oleh Ibnu Sirin[18], “Aku telah mendengarkan hadis dari sepuluh perawi yang mengandung makna sama tapi diungkapkan berbeda-beda.”

Dengan pengakuan di atas menunjukkan bahwa periwayatan hadis dengan makna sudah tidak asing lagi di kalangan umat Islam. Gambaran kondisi ini juga yang memperkuat pendapat jumhur ulama tentang pembolehan meriwayatkan hadis dengan makna, termasuk di dalamnya imam mazhab yang empat.

Hadis Rasulullah saw menjadi landasan untuk memperkuat pendapat para ulama yang memperbolehkan meriwayatkan hadis secara makna. Hadis riwayat al-Baihaqiy dari Abdullah bin al-Ukaymah al-Laith, Nabi saw bersabda;[19]

إذا لم تحلوا حراما ولا تحرموا حلالا فلا بأس

“Jika kalian tidak merubah yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal maka itu tidak apa-apa”

Untuk menjaga sikap kehati-hatiannya dalam setiap meriwayatkan hadis para sahabat, tabi’in dan para ahli hadis setelah mereka sudah mentradisikan ungkapan khusus sebagai tanda bahwa hadis yang diriwayatkannya dilakukan secara makna, terutama mengenai keadaan peperangan atau peristiwa tertentu, setelah meriwayatkan hadis mereka mengatakan “aw kamā qāla” (atau seperti yang disabdakan Nabi saw), “aw qarīban minhu” (atau yang mendekati), “aw nahwa hādha” (atau riwayat sejenis ini), atau “aw shibhahu” (atau riwayat yang serupa). Praktek seperti ini sering dilakukan oleh Abdullah Ibnu Mas’ūd, Abu Darda’, Anas bin Malik, dan lain-lain.[20] Maka sepatutnya kiranya kita mengikuti jejak mereka dalam setiap selesai mengutarakan sebuah hadis sebagai sikap kehati-hatian kita atau memang ada keraguan dalam membacakan susunan kalimatnya.

Selajutnya, ulama hadis mempersoalkan tentang boleh tidaknya perawi hadis meringkas atau memenggal matan hadis. Ada yang melarangnya, ada yang membolehkannya tanpa syarat dan ada yang membolehkannya dengan syarat-syarat tertentu. Pendapat yang terakhir ini banyak diikuti oleh ulama hadis, syarat yang dimaksud adalah:

a.       yang melakukan ringkasan bukanlah periwayat hadis yang bersangkutan.

b.      apabila peringkasan dilakukan oleh periwayat hadis, maka harus ada hadis yang dikemukakan secara sempurna.

c.       tidak terpenggal kalimat yang mengandung kata pengecualian (al-istithnā’), syarat, penghinggaan (al-ghāyah) dan yang semacamnya.

d.      peringkasan tidak merusak petunjuk dan penjelasan yang terkandung dalam hadis yang bersangkutan.

e.       yang melakukan peringkasan haruslah orang yang benar-benar telah mengetahui kandungan hadis yang bersangkutan.

Menurut penulis, ulama berbeda pendapat tentang periwayatan hadis dengan cara meringkas atau memenggal matan tersebut. Sesungguhnya berpangkal dari perbedaan tentang boleh-tidaknya periwayatan secara makna. Pendapat yang cukup realistik dan hati-hati adalah pendapat yang membolehkannya dengan catatan harus dipenuhi syarat-syarat tertentu.

C. Metodologi al-Taḥammul wa al-Adāʻ Hadis

Dalam ilmu hadis istilah yang digunakan oleh ulama ahli hadis tentang proses penerimaan dan periwayatan hadis (al-Taḥammul wa al-Adāʻ).

1. Definisi al-Taḥammul al-Hadith dan al-Adāʻ al-Hadīth

Pengertian al-taḥammul menurut bahasa yaitu bentuk maṣdar dari : تَحَمَّلَ – يَتَحَمَّلُ تَحَمُّلاً. Dikatakan  حَمَّلَهُ الأمْرُ  maknanya adalah “membebankan suatu urusan kepadanya”, sedangkan menurut istilah adalah mengambil sebuah hadis dari seorang guru dengan cara atau metode tertentu (sebagaimana yang akan dibahas selanjutnya). Dan sebaliknya kegiatan menyampaikan atau meriwayatkan hadis dari seorang perawi kepada orang lain disebut dengan istilah al-adā’.[21]

2. Syarat Kelayakan Penerima dan Penyampai Hadis

Dalam kelayakan si penerima hadis para ulama memfokuskan diri pada pengambil hadis dari kalangan anak-anak. Karena tidak tertutup kemungkinan ada seorang perawi hadis yang ketika menerima hadis ia masih kecil sehingga dimungkinkan juga periwayatan hadisnya tidak sesuai dengan apa yang diterima dari gurunya. Contoh dari kalangan sahabat pada saat mereka masih belia sudah menerima hadis adalah seperti Ḥasan Ḥusain, Abdullah bin Zubayr, Anās bin Mālik, Abdullah bin Abbās, Abū Sa’id al-Khuḍriy, Mahmūd bin Rabī’, dan sebagainya.[22] Namun demikian para sahabat, tabi’in dan ulama fiqh tetap saja menerima hadis mereka tanpa ada pemilihan antara hadis yang mereka terima di waktu para sahabat tadi belum baligh dan sesudah baligh.

Ada syarat ukuran usia dari perawi yang masih anak-anak untuk bisa mendengarkan riwayat hadis, yaitu ukuran tamyiz. Namun permasalahan yang muncul kemudian adalah mengenai ukuran tamyiz itu sendiri bagi bisa dipandang berbeda-beda. Untuk itulah para ulama juga berbeda dalam menentukan boleh dan tidaknya anak yang belum baligh menerimakan hadis. Perbedaan tersebut tergambar sebagai berikut;[23]

a.       Umur minimalnya lima tahun. Ini dilandaskan pada riwayat Imam al-Bukhārīy dalam ṣaḥīḥ-nya dari hadis Muḥammad bin Rabī’ ra. berkata;  “aku masih ingat siraman Nabi saw dari timba ke mukaku, dan aku ketika itu berusia lima tahun.”

b.      Kegiatan mendengar oleh anak-anak itu bisa absah jika ia sudah bisa membedakan antara sapi dan himar. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Hafīẓ Musa bin Hārūn al-Hammāl.

c.       Keabsahan mendengarkan hadis bagi anak-anak jika ia telah memahami isi pembicaraan dan mampu memberikan jawaban, maka ia sudah masuk usia tamyiz. Pendapat ini dirumuskan oleh ulama hadis mutaqaddimīn.

Sebenarnya kegiatan mengumpulkan dan meriwayatkan hadis pada anak-anak sudah biasa terjadi di kalangan ulama, baik mutaqaddimīn maupun muta’akhkhirīn. Terbukti bahwa beberapa ahli hadis seperti al-A’mash aktif menyebarkan hadis pada anak-anak. Ini menunjukkan secara jelas tentang keabsahan anak yang belum baligh mendengarkan hadis.[24]

Adapun orang yang menyampaikan (adā’ al-hadīth) hadis harus memenuhi syarat sebagai berikut:[25]

a.       Islam. Hadis yang diriwayatkan oleh non Islam tidak dapat diterima.

b. Baligh dan berakal sehat. Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang tidak mukallaf tidak dapat diterima.

c. Al-’adalah. Yang dimaksud dengan persyaratan ini adala sifat yang melekat pada seorang periwayat hadis sehingga ia selalu setia terhadap Islam. Orang ini tidak mau melakukan dosa besar, dan selalu menjaga diri sedapat mungkin tidak melakukan dosa kecil.

d.      Al-dhabtu. Dimaksudkan di sini adalah teliti dan cermat, bak ketika menerima pelajaran hadits maupun menyampaikannya. Sudah barang tentu, orang seperti ini mempunyai hafalan yang kuat, pintar, dan tidak pelupa.

Menurut analisa penulis, kriteria di atas merupakan penentu diterima tidaknya riwayat hadis yang mereka sampaikan. Salah satu syarat tidak terpenuhi maka gugurlah ia sebagai perawi hadis. Meskipun kegiatan menerima hadis di kalangan anak-anak masih diperbolehkan tetapi dalam menyampaikan atau meriwayatkan hadis mereka belum bisa diterima. Dengan kata lain, boleh menerima hadis di waktu belum baligh dan diriwayatkannya pada waktu sudah baligh dan riwayat hadisnya bisa diterima. Hal ini memiliki relevansi dengan periwatan hadis yang dilakukan oleh seseorang yang di waktu menerima atau mendengar hadis ia belum masuk Islam dan menyampaikannya ketika sudah masuk Islam, maka hadisnya pun juga bisa diterima.

3. Metode al-Taḥammul al-Ḥadīth dan Sighat-Sighat al-Adā’

Metode al-Taḥammul al-Ḥadīth adalah tata cara penerimaan hadis dari seorang guru kepada muridnya, sedangkan sighat-sighat al-adā’ adalah ungkapan-ungkapan yang dipergunakan ketika meriwayatkan atau menyampaikan hadis kepada muridnya sebagai sarana untuk menunjukkan cara pengambilan hadis yang diambil dari gurunya.[26]

Metode penerimaan hadis ada 8, yaitu:[27]

a.       Al-samā’, yaitu suatu metode penyampaian langsung antara guru dengan murid. Guru membacakan hadis, bentuknya bisa membaca hafalan, membacakan kitab, tanya-jawab atau dikte. Dalam proses penyampaian hadis, metode inilah yang paling kuat. Ungkapan yang dipakai adalah: Sami’tu, ḥaddathanī,

b.      Al-‘ardhu atau al-qirā’ah, yaitu seorang murid membacakan hadis dihadapan guru. Dalam metode ini seorang guru dapat mengoreksi hadis yang dibacakan murid. Istilah yang dipakai adalah: Akhbaranā, atau ḥaddathanā qirā’atan ‘alayh.

c.       Al-ijāzah, yaitu pemberian ijin seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan hadis tanpa membacakan hadis satu per satu. Istilah yang dipakai adalah: Anba’anā, akhbaranā ijāzatan atau ḥaddathanā ijāzatan.

Mengenai pembagian ijazah dalam meriwayatkan hadis para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan dibagi menjadi delapan[28], ada juga yang membaginya menjadi sembilan[29], dan sebagainya. Namun di sini penulis hanya menyajikannya dalam lima kategori saja, yaitu;

1.      Guru memberi izin kepada orang tertentu untuk riwayat yang tertentu seperti dia mengatakan; “Saya memberi ijazah kepadamu meriwayatkan Sahih al-Bukhari”. Kategori ini adalah bagian ijazah tanpa munawalah yang paling tinggi.

2.      Guru memberi ijazah kepada orang tertentu untuk menerima riwayat yang tidak tertentu seperti dia mengatakan; “Saya memberi ijazah kepada anda untuk meriwayatkan hadis-hadis yang saya dengar”.

3.      Memberi ijazah kepada orang yang tidak tertentu dengan riwayat yang tidak tertentu seperti saya memberi ijazah kepada orang-orang di zaman saya untuk meriwayatkan hadis-hadis yang saya dengar.

4.      Memberi ijazah kepada orang yang tidak diketahui atau riwayat yang tidak diketahui seperti, “saya memberi ijazah kepada anda untuk meriwayatkan kitab sunan”, sedangkan dia meriwayatkan beberapa kitab sunan, atau “saya memberi ijazah kepada Muḥammad bin Khālid al-Dimashqiy, padahal banyak orang yang mempunyai nama ini.

5.      Memberi ijazah kepada orang yang tidak ada, contohnya; “saya memberi ijazah kepada si fulan dan anak yang akan dilahirkan”.

Hukum untuk bagian pertama di atas adalah ṣaḥīḥ menurut pendapat mayoritas ulama dan dipakai secara berterusan serta harus meriwayatkan dengan cara ini dan beramal dengannya. Beberapa kumpulan ulama pula menganggap cara ini tidak tepat dan ini salah satu dari dua pendapat yang dinukilkan dari Imam al-Shāfi’iy.
Sementara bagian-bagian ijazah yang lain, khilaf tentang keharusan pemakaiannya. Bagaimanapun, penerimaan dan periwayatan hadis dengan cara ini (ijazah) merupakan penerimaan lemah dan belum pantas untuk langsung menerimanya.

Lafadz-lafadz Penyampaian, yaitu: 1) Yang paling baik dengan mengatakan: أجاز لي فلان (si fulan telah mengijazahkan kepada saya); 2) Diharuskan dengan lafadz sama’ yang mempunyai ketenntuan seperti حدّثنا إجازة (dia telah menceritakan kepada kami secara ijazah) atau أخبرنا إجازة (dia telah mengabarkan kepada kami secara ijazah); 3) Istilah ulama muta`akhkhirīn: Lafadz  أنبأنا(menyampaikan kepada kami) dan ini dipilih oleh pengarang kitab al-Wijādah.

d.      Al-Munāwalah, yaitu seseorang memberitahukan satu atau beberapa buah hadis atau kitab hadis kepada orang lain. Para ulama membagi al-munawalah dalam dua bentuk; [1] al-munawalah yang disertai ijazah seperti seseorang mengatakan, “ini kumpulan riwayat hadisku yang aku dengar dari si Fulan, maka riwayatkanlah dariku,” dan ulama hadis menghukuminya boleh. Ungkapan al-ada’ yang dipergunakan adalah nawalanī, nawalanī ijāzatan, atau akhbaranā munāwalatan wa ijāzatan. [2] Kedua yang tanpa adanya ijazah seperti perkataan, “ini riwayat hadisku dari si Fulan,” dan dihukumi tidak boleh untuk meriwayatkannya pada orang lain.

e.       Al-Mukātabah, yaitu seseorang memberi catatan hadis kepada orang lain. Ulama hadis membaginya dua macam; [1] al-mukatabah yang disertai ijazah seperti perkataan, “aku ijazahkan hadis yang aku tulis ini”. Ini dihukumi ṣaḥīḥ dan sighat al-adā’ yang dipergunakan adalah kataba ilayya fulān, akhbaranī fulān kitābatan atau ḥaddathanī fulān kitābatan.[2] al-munāwalah tanpa ada ijazah seperti guru menulis surat yang berisi hadis Nabi saw tapi tanpa ada ijazah untuk meriwayatkannya dari penulisnya. Ulama hadis berbeda pendapat mengenai hukum bagian yang kedua ini, namun kebanyakan memperbolehkan meriwayatkannya.

f.       I’lām al-shaykh, yaitu guru menginformasikan kepada muridnya, bahwa hadis ini atau kitab hadis ini adalah hasil periwayatannya dari seseorang tanpa menyebut namanya dan tanpa ada izin untuk meriwayatkannya. Hukumnya kontroversial, tapi kebanyakan ulama hadis tidak memperbolehkan meriwayatkannya. Sighat yang dipakai seperti “a’lamanī shaykhīy bi kadhā”.

g.      Al-waṣiyyah, yaitu guru mewasiatkan buku catatan hadis kepada muridnya sebelum meninggal dunia. Hukumnya boleh karena guru mewasiatkan kitab miliknya bukan riwayatnya, namun juga ada yang tidak membolehkannya. Sighat yang digunakan seperti “awṣā ilayya fulān bi kadhā atau akhbaranī fulān bi kadhā waṣiyyatan”.

h.      Al-wijādah, yaitu seseorang menemukan catatan hadis seseorang tanpa ada rekomendasi untuk meriwayatkan hadis tersebut. Sighat yang digunakan seperti “wajadtu bi khatti fulānin kadzā”.

Banyak pendapat berkenaan dengan metode al-wijādah. Ulama dari Mālikiyyah menolak metode ini, sedangkan ulama Shāfi’iyyah menerimanya.

Ulama Malikiyah berpendapat, bahwa metode al-wijādah tidak bisa diterima riwayatnya, karena metode ini masuk kategori maqthū’, terputus jalan periwayatannya karena tidak adanya pertemuan langsung antara guru dengan murid. Syekh al-Albany dalam kitabnya “Al-Ḍa’īfah“, cenderung memasukkan pada kumpulan hadis ḍa’īf-nya.

Lain halnya dengan golongan ulama Shāfi’iyyah, mereka membolehkan mengamalkan hadis dengan cara periwayatan al-wijādah.[30] Pendapat ini didukung oleh Imam Nawawi dan Ibnu Ṣālaḥ. Ibnu Ṣālaḥ[31] mengatakan,

“Inilah yang mesti dilakukan pada masa-masa akhir ini. Karena seandainya pengamalan itu tergantung pada periwayatan hadis maka akan tertutuplah pintu pengamalan hadis yang dinukil (dari Nabi saw) karena tidak mungkin terpenuhi syarat periwayatan padanya.”

 

Tentu saja pembolehan ini ada batasannya. Sebagaimana diisyaratkan oleh al-Budaihi, bahwa orang yang menulis kitab kumpulan hadis yang ditemukan itu adalah orang yang terpercaya dan sanad hadisnya ṣaḥīḥ, sehingga jika sudah terpenuhi semua syarat tersebut maka wajib mengamalkannya.

Al-Sayūṭiy dan al-Baiquni kemudian dijadikan argumen oleh al-‘Imād bin Kathīr,[32] menyatakan bahwa para ulama yang memperbolehkan mengamalkan hadis dengan metode al-wijādah ini menyandarkan pada sabda Rasulullah saw:

أي الخلق أعجب إليكم إيماناً؟ قالوا: الملائكة، قال وكيف لا يؤمنون وهم عند ربهم؟ وذكروا الأنبياء، فقال: وكيف لا يؤمنون والوحي ينزل عليهم؟ قالوا: فنحن، قال: وكيف لا تؤمنون وأنا بين أظهركم؟ قالوا: فمن يا رسول الله؟ قال: قوم يأتون من بعدكم، يجدون صحفاً يؤمنون بما فيها ” ، (رواه احمد و الدارمى والحاكم من حديث ابي جمعة الانصارى)

“Makhluk mana yang menurut kalian (para sahabat) paling menakjubkan keimanannya?” Mereka berkata: “Para malaikat.” Nabi saw bersabda: “Bagaimana mereka tidak beriman, sedang mereka di sisi Tuhan mereka.” Mereka (para sahabat) menyebut: “Para nabi.”Nabi saw menjawab: “Bagaimana mereka tidak beriman, sedang wahyu turun kepada mereka.” Mereka mengatakan: “Kalau begitu kami.” Beliau menjawab: “Bagaimana kalian tidak beriman, sedang aku ada di tengah-tengah kalian.” Mereka mengatakan: “Lalu siapakah wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang datang setelah kalian, mereka mendapatkan lembaran-lembaran lalu mereka beriman dengan apa yang di dalamnya.” (HR. Ahmad bin Hanbal, al-Darimi dan al-Hakim dari Abi Juma’ah al-Anshari).”

 

D. Penutup

Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa periwayatan hadis secara lafal memang seharusnya dilakukan namun tidak tertutup kemungkinan untuk bisa menghindari, dan ini memang banyak beredar, hadis yang diriwayatkan secara makna. Kemudian metode tahammul dan al-ada’ hadis merupakan sesuatu yang harus dipenuhi karena menyangkut kevalidan sebuah hadis.

Demikian makalah ini penulis sajikan, apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dari segi penulisan dan pembahasan setelah dilakukan revisi karena minimnya referensi yang ada, maka penulis mohon maaf yang tiada batasnya. Akhirnya, penulis mengucapkan banyak terima kasih atas segala koreksi dan kesediaannya untuk membimbing penulis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Abū Shuhbah, Muḥammad bin Muḥammad. Al-Wasīṭ fi ‘Ulūm wa Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth. Riyāḍ: ‘Ālam al-Ma’rifah, tt.

Al-Aḥdaliy, Ḥasan Muḥammad Maqbūliy, Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth wa Rijāluhū, Yaman: Maktabah al-Jail al-Jadīd, 2003.

Al-Baghdādiy, Al-Khaṭīb. Kitāb al-Kifāyah fi ‘ilm al-Riwāyah, (Haidar Abad: al-Ma’arif al-‘Uthmaniyah, 1435 H.

Al-Baghdādiy, al-Khaṭīb. Majmū’ah Rasā’il fi ‘Ulūm al-Ḥadīth. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993.

Al-Bukhāriy, Abu ‘Abdullah Muhammad bin Isma’il. al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ al-Bukhāriy, Juz I, (Kairo: al-Maṭba’ah al-Salafiyyah wa Maktabatuha, 1980

Al-Khāṭib, Muḥammad Ajjāj. Uṣūl al-Ḥadīth ‘Ulūmuhū wa Muṣṭalaḥuhū. Beirut: Dār al-Fikr, 1971.

Al-Khāṭib, Muḥammad ‘Ajjāj. al-Sunnah Qabla al-Tadwīn. Beirut: Dār al-Fikr, 1971.

Al-Khāṭib, Muḥammad ‘Ajjāj. Usūl al-Ḥadīth: Pokok-Pokok Ilmu Hadits, terj. M. Qodirun Nur dan Ahmad Musyfiq, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998

Al-Mālikiy, Muḥammad ‘Alawiy. ‘Ilm Uṣūl al-Ḥadīth, terj. Adnan Qohhar, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Al-Mas’udiy. Ilmu Mushthalah Hadis: Disertai Keterangan dan Skemanya,Terjemah: H. Fadlil Sa’id an-Nadwi, Surabaya: al-Hidayah, 1999.

Al-Shāfi’iy, Muḥammad bin Idrīs. al-Risālah, Beirut: Dār al-Fikr, tt.

Al-Rahmān, Fatḥ. Ikhtiṣār Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth. Bandung: PT. al-Ma’arif, 1974.

Al-Turmīdhiy, Abu ‘Isa Muḥammad bin ‘Isa bin Saurah. Al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ wahuwa Sunan al-Turmidhīy, Juz V, (Mesir: Maktabah wa Maṭba’ah al-Muṣṭafā, 1975.

Bustami dan Salam. Metodologi Kritik Hadis, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persadu, 2004.

Mudasir. Ilmu Hadis: Untuk IAIN, STAIN, dan PTAIS, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999.

Mudzakir, Muhammad Ahmad. Ulumul Hadis: Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2000.

Muhaimin, Tajab, Mudjib. Dimensi-Dimensi Studi Islam, Surabaya: Karya Abditama, 1994.

Muslīm, Abu al-Ḥusain bin al-Ḥajjāj al-Nasaiburiy. Ṣaḥīḥ Muslīm, kitab al-Īmān, bab “Persoalan Tentang Iman”,  Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1930.

Ṣaliḥ, Ṣubḥiy. ‘Ulūm al-Ḥadīth wa Muṣṭalaḥuhu. Beirut: Dār al-‘Ilm li al-Malayīn, 1991.

Ṭaḥḥān, Muḥammad. Al-Manhaj al-Ḥadīth fi Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth. Riyāḍ: Maktabah al-Ma’ārif, 2004.

Syuhudi. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Sejarah, Jakarta: Bulan Bintang, 1995.

 


[1] Dalam bahasa Arab kata al-ḥadîth (jamaknya; al-aḥâdîth, al-ḥidtsan, dan al-ḥudtsan) memiliki banyak arti di antaranya: [1] al-jadîd (yang baru), lawan dari al-qadîm (yang lama) atau berarti al-qarîb (yang dekat), dan [2] al-khabâr (kabar atau berita). Menurut ahli hadis, hadis/sunah itu adalah segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi Saw. baik berupa perkataan, perbuatan, taqrîr (ketetapan), keadaan, sifat-sifat, dan himmah (keinginan/cita-cita) Nabi Saw. Muhammad Ahmad, Mudzakir, ‘Ulumul Hadis: Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2000), h. 10; Mudasir, Ilmu Hadis: Untuk IAIN, STAIN, dan PTAIS, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999), h. 11 dan 22-24; Muhaimin, Tajab, Mudjib, Dimensi-Dimensi Studi Islam, (Surabaya: Karya Abditama, 1994), h. 129 dan 131; Bustami dan Salam, Metodologi Kritik Hadis, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persadu, 2004), h. 6; Muḥammad al-Ḥusni, al-Qawâ’id al-Asâsiyyah fi ‘Ilm Muṣṭalaḥ al-Ḥadîth, ttp. tt. h. 14.

[2] Rawi adalah periwayat hadits, sedangkan sanad menurut bahasa bersinonim dengan kata al-ṭarīqah, yang berarti “jalan” atau “sandaran”. Menurut istilah, sanad adalah jalan yang menyampaikan kita pada materi hadis. Kemudian, matan adalah materi atau redaksi berita yang disampaikan oleh sanad terakhir. Al-Mas’udi, Ilmu Mushthalah Hadis: Disertai Keterangan dan Skemanya,Terjemah: H. Faḍil Sa’īd an-Nadwiy, (Surabaya: al-Hidayah, 1999),  h. 6-7. Syuhudi, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan Dengan Pendekatan Sejarah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), h. 9.

[3] [1] Ilmu hadis riwayah adalah Ilmu pengetahuan untuk mengetahui cara-cara penukilan, pemeliharaan dan pendewanan apa-apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir maupun lain sebagainya. Obyek ilmu hadis riwayah yaitu bagaimana cara menerima, menyampaikan kepada orang dan memindahkan atau mengumpulkan dalam sebuah kitab hadis. Faedah mempelajari ilmu ini adalah untuk menghindari adanya kemungkinan salah kutip terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Perintis pertama ilmu riwayah adalah Muhammad bin Syihāb Az-Zuhriy. [2] Ilmu hadis dirayah disebut dengan ilmu muṣṭalaḥ al-ḥadīth sebagai sebuah undang-undang (kaidah-kaidah) untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan hadis, sifat-sifat rawi dan lain sebagainya. Obyek ilmu hadis riwayah adalah meneliti kelakuan para rawi dan keadaan marwinya (sanad dan matannya). Menurut sebagian ulama, yang menjadi obyeknya ialah Rasulullah saw sendiri dalam kedudukannya sebagai Rasul Allah. Faedahnya atau tujuan ilmu ini untuk menetapkan maqbūl (dapat diterima) atau mardūd (tertolak)-nya suatu hadis dan selanjutnya untuk diamalkannya yang maqbūl dan ditinggalnya yang mardūd. Muḥammad ‘Alawiy al-Mālikiy, ‘Ilm Uṣūl al-Ḥadīth, terj. Adnan Qohhar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 39; Muhammad Ahmad, Mudzakir, Ulumul Hadis…, h. 12.

[4] Muslīm, Ṣaḥīḥ Muslīm, kitab al-Īmān, bab “Persoalan Tentang Iman”,  (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1930), h. 9.

[5] Ṣubḥi Ṣāliḥ, ‘Ulūm al-Ḥadīth wa Muṣṭalaḥuhū, (Beirut: Dār al-‘Ilm, 1991), h. 8; Al-Khaṭīb al-Baghdādiy, Kitāb al-Kifāyah fi ‘ilm al-Riwāyah, (Haidar Abad: al-Ma’arif al-‘Uthmaniyah, 1435 H), h. 175.

[6] Hadis tersebut diriwayatkan langsung dari Barra’ bin ‘Āzib. Ibid.

[7] Muḥammad bin Muḥammad Abū Shuhbah, al-Wasīṭ fi ‘Ulūm al-Ḥadīth wa Muṣṭalah al-Ḥadīth, (Riyāḍ: ‘Ālam al-Ma’rifah, tt), h. 146-147.

[8] Abu ‘Abdullah Muhammad bin Isma’il al-Bukhāriy, al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ al-Bukhāriy, Juz I, (Kairo: al-Maṭba’ah al-Salafiyyah wa Maktabatuha, 1980), h. 158.

[9] Hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Turmidhiy dari Abu Hurairah dan juga diterima dari riwayat Abu Musa al-Asy’ariy. Abu ‘Isa Muḥammad bin ‘Isa bin Saurah, al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ wahuwa Sunan al-Turmidhīy, Juz V, (Mesir: Maktabah wa Maṭba’ah al-Muṣṭafā, 1975), h. 17; Al-Bukhāriy, al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ…, bab Iman, juz I, h. 8.

[10] Al-Bukhāriy, al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ…, kitab al-Tauhid, juz IV, h.

[11] Ibid, h. 145.

[12] Muḥammad ‘Ajjāj al-Khāṭib, al-Sunnah Qabla al-Tadwīn. (Beirut: Dār al-Fikr, 1971), h. 155.

[13] Hadis tersebut diriwayatkan dari Anās bin Mālik. Muhammad bin Isma’il al-Bukhāriy, Ṣaḥīḥ al-Bukhāriy, (Beirut: Dār al-Fikr, 1981), Kitāb al-Adab, bab al-Ḥubb fillah, jilid IV, juz VII, h. 83.

[14] Hadis tersebut juga diriwayatkan dari Anās bin Mālik. Ibid, kitāb al-Īmān, bāb al-Ḥawālah al-Īmān, jilid I, juz I, h. 9. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Muslīm, Abū Dāud, Tirmīdhiy, an-Nasā’iy, Ibnu Mājah dan Ahmad.

[15] Muḥammad Jamal al-Dīn al-Qāsimiy, Qawā’id al-Tahdīth min Funūn Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1979), h. 172.

[16] Muḥammad bin Idrīs al-Shāfi’īy, al-Risālah, (Beirut: Dar al-Fikr, tt), h. 270.

[17] Muḥammad ‘Ajjāj al-Khāṭib, Uṣul al-Hadīth: Pokok-Pokok Ilmu Hadits, terj. M. Qodirun Nur dan Ahmad Musyfiq, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), h. 216-217.

[18] Muḥammad Jamāl al-Dīn al-Qāsimiy, Qawā’id al-Tahdīth…, h. 222.

[19] Muḥammad bin Muḥammad Abu Shuhbah, al-Wasīṭ…, h. 146.

[20] Muḥammad ‘Ajjāj al-Khātib, Uṣūl al-Ḥadīth ‘Ulūmuhūu wa Muṣṭalaḥuhū, (Beirut: Dār al-Fikr, 1989), h. 252; Muḥammad bin Muḥammad Abu Shuhbah, al-Wasīṭ…, h. 147.

[21] Muḥammad ‘Ajjāj al-Khātib, Uṣūl al-Ḥadīth: Pokok-Pokok …, h. 200.

[22] Ibid, h. 201.

[23] Ibid.

[24] Ibid, h. 202.

[25] Ibid, h. 202-203.

[26] Muḥammad Ṭaḥḥan, al-Manhaj al-Ḥadīth fi Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth, (Riyāḍ: Maktabah al-Ma’ārif, 2004), h. 112.

[27] Ibid, h. 112-118; Muḥammad ‘Ajjāj al-Khāṭib, Uṣūl al-Ḥadīth: Pokok-Pokok…, h. 205-215; Al-Khāṭib al-Baghdādiy, Majmū’ah Rasā’il fi ‘Ulūm al-Ḥadīth, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), h. 95-97; Fatḥ al-Rahmān, Ikhtiṣār Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth, (Bandung: PT. al-Ma’ārif, 1974), h. 243-251; Ḥasan Muḥammad Maqbūliy al-Ahdāliy, Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth wa Rijāluhū, (Yaman: Shan’ā’, 2003), h. 45-50.

[28] Al-Khāṭib al-Baghdādiy, Majmū’ah Rasā’il…, h. 96-97.

[29] Muḥammad ‘Ajjāj al-Khātib, Uṣūl al-Ḥadīth: Pokok-Pokok …, h. 207.

[30] Fatḥ al-Rahmān, Ikhtiṣār…, h. 251.

[31] Muḥammad ‘Ajjāj al-Khātib, Usūl al-Ḥadīth: Pokok-Pokok …, h. 212; Ṣubḥi Ṣāliḥ, ‘Ulūm al-Ḥadīth…, h. 102-103.

[32] Ṣubḥi Ṣāliḥ, ‘Ulūm al-Ḥadīth…, h. 103.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s